Pramono Anung Perpanjang Operasi Modifikasi Cuaca hingga 27 Januari

- Jumat, 23 Januari 2026 | 11:55 WIB
Pramono Anung Perpanjang Operasi Modifikasi Cuaca hingga 27 Januari

Langit di atas Jakarta pagi itu masih kelabu, mengancam. Tapi Gubernur Pramono Anung punya keputusan yang sudah bulat: operasi modifikasi cuaca atau OMC bakal terus berjalan. Meski menuai kritik, operasi yang semestinya berakhir kemarin (23 Januari) itu resmi diperpanjang hingga 27 Januari 2026. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi banjir yang masih menggenangi sejumlah titik ibukota.

“Walaupun persoalan yang menyangkut modifikasi cuaca ini ada kritik dari banyak orang, menurut saya nggak apa-apa,”

kata Pramono saat blusukan ke Kali Cakung Lama, Semper Timur, Jakarta Utara, Jumat lalu. Nada suaranya terdengar tenang, meski tekanan dari berbagai pihak jelas ada.

Intinya, ini soal antisipasi. Pramono tak ingin banjir terulang lagi. Bahkan, dia memberi instruksi khusus: modifikasi cuaca boleh dilakukan hingga tiga kali dalam sehari jika situasi mendesak. “Kalau perlu sampai tiga kali. Jadi sampai dengan tanggal 27 (Januari), modifikasi cuaca boleh dilakukan satu hari sampai dengan tiga kali,”

tegasnya.

Menurutnya, hasilnya sudah kelihatan. Mantan Sekretaris Kabinet itu bercerita, kondisi langit yang awalnya gelap gulita berubah jadi lebih cerah setelah pesawat OMC menjalankan tugasnya. “Tadi teman-teman datang ke sini kan gelap gulita. Karena modifikasi cuaca sekarang sudah diterbangkan, kita bisa lihat matahari,”

ujar Pramono, menggambarkan perubahan itu.

Di sisi lain, OMC bukan satu-satunya senjata Pemprov DKI menghadapi cuaca ekstrem ini. Ada kebijakan lain yang juga digulirkan untuk meredam dampaknya. Pramono mengizinkan pekerja untuk work from home (WFH) dan siswa untuk school from home (SFH). Kebijakan ini berlaku sampai 28 Januari.

“Kami lakukan ini untuk mengantisipasi curah hujan tinggi, banjir, dan juga kemacetan lalu lintas,”

ungkapnya. Rupanya, skenarionya disiapkan secara menyeluruh, meski langkah modifikasi cuaca tetap menjadi yang paling banyak disorot.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar