Sukamta Peringatkan Indonesia: Jangan Sampai Perdamaian Gaza Abaikan Keadilan

- Jumat, 23 Januari 2026 | 09:05 WIB
Sukamta Peringatkan Indonesia: Jangan Sampai Perdamaian Gaza Abaikan Keadilan

Presiden Prabowo Subianto baru saja menandatangani piagam Dewan Perdamaian Gaza. Dengan langkah itu, Indonesia secara resmi masuk ke dalam badan yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Tapi, langkah pemerintah ini langsung mendapat sorotan.

Wakil Ketua Komisi I DPR dari PKS, Sukamta, punya pandangan yang cukup berimbang. Di satu sisi, ia paham alasan moral di balik keputusan itu. Namun begitu, secara politik, ia mengingatkan kita semua untuk ekstra waspada.

"Kehadiran Indonesia penting," tegas Sukamta kepada para wartawan, Jumat lalu.

Menurutnya, dengan ikut serta, Indonesia bisa mencegah fase pascaperang Gaza nanti hanya dikuasai oleh kepentingan negara-negara besar saja. Indonesia punya mandat sejarah, katanya, untuk memastikan suara keadilan tetap terdengar dalam setiap proses perdamaian untuk Palestina.

Tapi, ada catatan besar. Sukamta mengingatkan bahwa inisiatif Dewan Perdamaian ini berjalan di luar mekanisme resmi PBB. Nah, ini yang berbahaya. Situasi seperti ini berpotensi menggerus prinsip multilateralisme yang selama ini dijaga. Bisa-bisa, persoalan Palestina yang kompleks direduksi cuma jadi proyek keamanan belaka.

"Perdamaian tidak boleh direduksi menjadi sekadar ketiadaan konflik," ujarnya lagi.

Baginya, perdamaian sejati harus menyentuh akar masalah. Kalau pendudukan ilegal dan pelanggaran hukum internasional diabaikan, ya percuma saja. Itu risiko nyata yang harus diantisipasi sejak awal.

Oleh karena itu, Sukamta menegaskan bahwa keikutsertaan Indonesia tidak boleh pasif. Harus aktif, kritis, dan tentu saja bersyarat. Pemerintah didorong untuk konsisten mendesak penghentian pendudukan Israel, tanpa sedikitpun memberi pembenaran atas pelanggaran hukum humaniter yang terjadi.

"Indonesia harus memposisikan diri sebagai penjaga nurani global," lanjut politikus asal DI Yogyakarta ini.

Peringatannya jelas: jangan sampai upaya perdamaian malah mengubur keadilan dan menghapus pertanggungjawaban atas kejahatan kemanusiaan yang sudah terjadi. Itu harga yang terlalu mahal.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar