Layanan darurat pun bekerja tanpa henti. Mereka dikabarkan telah mengevakuasi sekitar 350 orang yang terjebak sejak awal bencana.
Di tengah situasi mencekam itu, ada kabar tentang empat nelayan yang hilang. Media lokal melaporkan, satu rekan mereka berhasil diselamatkan di daerah Teboulba, selatan Monastir. Presiden Kais Saied sendiri turun langsung melihat dampak kerusakan, mengunjungi Moknine dan Teboulba pada hari Selasa.
Ironisnya, bencana banjir dahsyat ini justru datang saat Tunisia sedang bergulat dengan kekeringan panjang telah berlangsung tujuh tahun. Perubahan iklim memperparah keadaan, membuat cadangan air di bendungan-bendungan menyusut drastis. Namun di sisi lain, infrastruktur drainase yang buruk membuat jalan-jalan di sana mudah sekali banjir begitu hujan deras tiba.
Gangguan cuaca ekstrem ini ternyata tak hanya terjadi di Tunisia. Negara tetangga, Aljazair, juga merasakan dampaknya. Hujan lebat dan banjir melanda beberapa wilayahnya, dengan pihak berwenang melaporkan dua orang meninggal di daerah Relizane dan Chlef, di bagian barat negara itu.
Artikel Terkait
Prabowo Bawa Prabowonomics ke Panggung Elite Davos
Tragis di Gondangdia: Nyawa Gadis 18 Tahun Melayang Usai Lompat ke Rel Kereta
Rencana Bius dan Dalih Bercanda di Balik Kasus Perundungan Siswi SMP Jakarta
Waspada, Jabodetabek Diguyur Hujan Lebat Seharian