Musim hujan kembali mengguyur Jabodetabek, dan dampaknya langsung terasa di tengah hiruk-pikuk mobilitas para pekerja. Perjalanan menuju kantor yang biasanya sudah padat, kini jadi lebih rumit. Curah hujan tinggi tak hanya membuat jalanan macet, tetapi juga menciptakan sederet kendala tak terduga yang menguji kesabaran.
Ambil contoh kisah Tata, seorang pekerja berusia 20 tahun di Jakarta Pusat. Baginya, hujan deras berarti pertaruhan melawan waktu. Layanan transportasi yang ia andalkan, seperti ojek online atau angkot, tiba-tiba menjadi langka. Waktu tunggunya membengkak, jauh lebih lama dari hari-hari biasa.
“Kadang misalkan kita mau naik kereta, kan aku kan ini ya selalu naik ojol kalau dari rumah, kalau nggak naik angkot,” ujar Tata.
“Kalau seandainya cuacanya lagi benar-benar besar banget kita harus nunggu dulu, jadi kayak ada banyak buang-buang waktu, jadi sedikit telat gitu,” keluhnya saat ditemui di sekitar Stasiun Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu lalu.
Namun begitu, rintangan buat Tata tak berhenti di situ. Banjir ikut merendam kawasan rumah dan sekantor dengannya, meski ketinggiannya berbeda. Lingkungan kerjanya kebanjiran setinggi mata kaki. Tapi di daerah rumahnya, genangan air jauh lebih mengkhawatirkan.
“Lumayan tinggi, hampir sebetis. Jadi itu yang menurut aku tuh negatifnya tuh kayak gitu, yang bikin kita jadi kayak kerja dua kali kalau adanya banjir gitu,” jelasnya. Rasanya seperti menguras tenaga ekstra sebelum dan sesudah bekerja.
Di sisi lain, cerita serupa datang dari Saikin, pekerja lain yang telah berusia 50 tahun. Kendaraannya, sebuah motor, kerap menjadi korban genangan yang muncul tiba-tiba di jalur yang ia lalui menuju stasiun.
“Saya kan dari rumah ke stasiunnya jauh ya, saya pakai motor. Cuma kalau kondisi banjir ya kadang-kadang ada perlintasan yang ada genangan air yang nggak bisa dilalui motor itu pernah,” tutur Saikin.
Ia pun tak punya pilihan lain.
“(Motor) Dituntun, didorong cari bengkel terdekat. Ya mau nggak mau ya itu,” tambahnya dengan senyum kecut.
Meski harus menerjang hujan hampir tiap hari tanpa opsi kerja dari rumah, semangat Saikin tak surut. Ia menyadari profesinya di pelayanan publik menuntut kehadiran fisik, cuaca apapun. Kuncinya cuma satu: persiapan matang.
“Waduh kalau WFH kayaknya enggak sih, karena saya di pelayanan publik, nggak mungkin WFH. Cuaca apapun ya kita harus tetap berangkat,” tegasnya.
“Jadi ya sudah biasa, yang penting antisipasinya ada. Ya persiapannya paling bawa-bawa jas hujan sama payung,” imbuh dia, menyebut ‘peralatan tempur’ andalannya itu.
Nyaris tiap hari mereka berdua, dan ribuan pekerja lain, berhadapan dengan situasi yang sama. Hujan dan banjir bukan cuma soal basah-basahan. Ini soal waktu yang terbuang, tenaga yang terkuras, dan usaha ekstra hanya untuk sampai ke tempat kerja. Tapi, seperti terlihat dari cerita mereka, yang tersisa adalah sikap pantang menyerah dan persiapan seadanya untuk menghadapi musim yang tak pernah ramah ini.
Artikel Terkait
Polisi Gerebek Daycare di Umbulharjo Jogja, Dugaan Penganiayaan Anak Terungkap
Jaksa Korsel Tuntut Tambahan 30 Tahun Penjara untuk Mantan Presiden Yoon atas Kasus Drone ke Korea Utara
Angkatan Laut Garda Revolusi Iran Sita Dua Kapal Kargo di Selat Hormuz, Tuding Terkait Israel
Kepala Satpol PP DKI Soroti Minimnya Personel: Butuh 10.000 Anggota, Baru Terpenuhi Setengahnya