Lalu, apa pemicu utama bencana hidrometeorologi ini? Menurut Achadi Subarkah Raharjo dari BMKG, jawabannya adalah cuaca ekstrem. Trennya, kata dia, terus meningkat dalam 16 tahun terakhir dan diprediksi akan berlanjut. Padahal, sebenarnya pola bencananya bisa dipetakan. Beberapa faktor pemicunya antara lain monsun dan fenomena La Nina yang kerap melanda Nusantara.
Namun begitu, Andung Bayu Sekaranom, dosen Geografi Lingkungan UGM, punya sudut pandang lain. Cuaca ekstrem, katanya, adalah proses meteorologi yang memang sulit ditebak. Karena itu, mitigasi harus fokus pada proses hidrologi bagaimana manusia mengendalikan aliran air. Perubahan iklim tak cuma bikin siklon lebih besar, tapi juga hujan lebih lebat. Di sinilah pentingnya "anticipatory action", yaitu tindakan dini yang didanai sebelum bencana terjadi.
Pembicara terakhir, Trimalaningrum dari Yayasan Skala Indonesia, menyoroti sisi kapasitas masyarakat. Cuaca ekstrem baru jadi bencana bila masyarakat tak siap menghadapi, merespons, dan pulih kembali. Sistem peringatan dini BMKG mungkin sudah makin kuat, tapi tantangannya ada di pemahaman dan respons di tingkat akar rumput.
Ia juga menyayangkan implementasi program kesiapsiagaan di daerah yang kerap terkendala.
"Saya prihatin bila mendengar anggaran kesiapsiagaan BNPB itu nol. Karena membangun kesiapsiagaan bencana itu penting,"
ungkapnya dengan nada prihatin.
Diskusi itu menutup satu hal: data dan peringatan sudah banyak. Tapi, tanpa aksi nyata dan komitmen anggaran yang memadai, kita hanya akan terus berputar dalam siklus yang sama: waspada, terdampak, lalu berduka.
Artikel Terkait
Polisi Ciawi Amankan Pikap Curian lewat Penyamaran Jadi Calon Pembeli
Longsor Sampah di Bantargebang Tewaskan Empat Orang, Dua Selamat
Pemerintah Hentikan Sistem Open Dumping di DKI Usai Longsor Tewaskan 4 Orang di Bantargebang
Menteri Lingkungan Hidup Sebut Longsor Sampah Bantargebang sebagai Alarm Keras