Di sisi lain, peran penerbangan sangat vital. Ia bukan sekadar bisnis, tapi juga penggerak ekonomi, pariwisata, dan distribusi barang. Bagi banyak daerah, terutama di Indonesia Timur, pesawat adalah kebutuhan primer. Bukan pilihan.
"Ketika tiket mahal, maka akses masyarakat terhadap pendidikan, kesehatan, dan ekonomi juga ikut terhambat,"
tegas Saadiah. Karena itu, ia mendesak pemerintah untuk meninjau ulang kebijakan tarif batas atas dan bawah. Evaluasi menyeluruh terhadap beban fiskal yang membebani maskapai domestik juga dinilai mendesak.
Sebagai penutup, Saadiah berharap ada langkah konkret yang segera diambil. Ia mendorong agar harga tiket bisa lebih terjangkau dan berpihak pada kepentingan publik.
"Sudah saatnya akses udara menjadi lebih adil dan inklusif bagi seluruh rakyat Indonesia,"
pungkasnya. Harapannya jelas: penerbangan dalam negeri harus kembali menjadi jembatan pemersatu, bukan penghalang yang mahal.
Artikel Terkait
Rapper Balendra Shah Kalahkan Mantan PM Oli di Pilkada Nepal
Polda Riau Kembangkan Pupuk Organik Cair untuk Dongkrak Produksi Jagung Lokal
Angin Kencang dan Hujan Deras Robohkan Rumah Warga di Caringin, Bogor
Kedubes Polandia Gelar Lomba Desain Batik Pererat Hubungan dengan Indonesia