Di ruang sidang Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (20/1/2026) lalu, suasana sempat tegang. Majelis hakim menyorot Ganis Samoedra Murharyono, Strategic Partner Manager Google for Education, dengan pertanyaan kritis. Intinya soal harga. Hakim penasaran, benarkah harga lisensi Chrome Device Management (CDM) yang diterapkan Google sama persis untuk semua negara, baik yang maju maupun berkembang?
Ganis hadir sebagai saksi dalam sidang dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook dan CDM. Di kursi terdakwa, duduk Mulyatsyah (eks Direktur SMP Kemendikbudristek), Sri Wahyuningsih (eks Direktur Sekolah Dasar), serta konsultan bernama Ibrahim Arief atau yang akrab disapa Ibam.
"Dalam BAP Anda disebutkan salah satu keunggulannya, lisensi Google itu sekitar 30 dolar per laptop. Benar begitu?" tanya hakim membuka pemeriksaan.
"Itu harga CDM-nya," sahut Ganis.
"Lisensinya?" desak hakim.
"Per satu laptop. Betul," jawabnya singkat.
Ganis lalu menegaskan, angka itu tak bisa ditawar. Harganya, katanya, mutlak ditentukan oleh Google secara global. "Tidak bisa dinego. Beli satu, dua, sepuluh, atau seratus, harganya tetap tiga..." ujarnya.
"Tiga puluh delapan US Dollar," sambung Ganis melengkapi.
Hakim tak habis pikir. Bagaimana mungkin harga di negara dengan daya beli berbeda disamaratakan? Pertanyaan pun berlanjut, lebih spesifik. "Harganya di Indonesia, Singapura, dan Jerman sama?" tanyanya.
"Sama," Ganis membenarkan.
"Sama?" timpal hakim, nada suaranya terdengar tak percaya.
Artikel Terkait
BI Ingatkan Bahaya Tukar Uang di Pinggir Jalan, Ajak Masyarakat Gunakan Layanan Resmi
BRIN Temukan Mikroplastik di Kedalaman 2.450 Meter di Jalur Arus Lintas Indonesia
HNW: Ramadan Momentum Perkuat Iman, Ilmu, dan Amal untuk Keunggulan Umat
Kata Oma dan NBJ Sukses Gelar Ngabuburit dengan Nyanyi Bareng di Jakarta