Pendaki Pemula di Bulusaraung Jadi Saksi Mata Pesawat Jatuh

- Senin, 19 Januari 2026 | 07:40 WIB
Pendaki Pemula di Bulusaraung Jadi Saksi Mata Pesawat Jatuh

Dua pendaki muda, Reski (20) dan Muslimin (18), baru saja tiba di puncak Gunung Bulusaraung. Napas mereka masih terengah, tapi rasa lelah itu langsung hilang seketika. Di depan mata mereka, sebuah peristiwa mengerikan terjadi: pesawat ATR 42-500 jatuh. Ini pendakian pertama mereka ke gunung di Pangkep, Sulawesi Selatan itu. Pengalaman yang mestinya jadi kenangan indah, malah berubah jadi momen mendebarkan yang sulit dilupakan.

“Baru pertama kali di Bulsar. Temanku saja bilang kayak mimpi rasanya. Kaget begitu,” ujar Reski, menceritakan detik-detik itu.

“Langsung refleks dia menarik saya. Temanku itu juga baru pertama ke sini,” tambahnya.

Semuanya berjalan normal awalnya. Mereka sampai di puncak sekitar setengah satu siang, Sabtu lalu. Kebetulan banget, saat itu cuma mereka berdua yang ada di atas. Suasana sepi, hanya angin dan kabut yang menyelimuti. Mereka pun duduk santai menikmati pemandangan.

Lalu, terdengarlah suara.

Suara pesawat dari kejauhan. Reski mengaku awalnya tak terlalu ambil pusing. Dia cuma mengira itu pesawat biasa yang sedang melintas di atas gunung. Tapi lama-lama, suaranya makin keras. Makin dekat. Rasanya aneh.

“Saya duduk-duduk sama teman di puncak. Tiba-tiba ada suara pesawat dari jauh. Arahnya nggak jelas. Semakin mendekat saja. Saya kira cuma lewat, ternyata enggak,” tuturnya.

Beberapa detik kemudian, di balik tirai kabut tebal, cahaya menyilaukan tiba-tiba muncul. Disusul ledakan keras yang mengguncang. Mereka melihat api menjilat dan serpihan metal berhamburan ke udara beberapa di antaranya nyaris mengenai mereka.

“Suaranya makin mendekat, lalu… meledak! Langsung ada api, berhamburan ke atas juga. Serpihannya hampir saja kena kami, karena terbang ke arah kami,” kenang Reski, menggambarkan mencekam itu.

Kekagetan dan rasa tidak percaya masih melekat pada kedua pendaki itu. Sebuah pendakian perdana yang berakhir dengan pemandangan yang tak seorang pun ingin saksikan langsung.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar