Fadli Zon Buka Suara Soal Polemik Penunjukan Pelindung Keraton Solo

- Minggu, 18 Januari 2026 | 18:55 WIB
Fadli Zon Buka Suara Soal Polemik Penunjukan Pelindung Keraton Solo

Merespons penolakan yang dilontarkan pihak Paku Buwono XIV Purbaya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon akhirnya angkat bicara. Intinya, penunjukan KGPH Tedjowulan sebagai Pelaksana Perlindungan Kawasan Cagar Budaya Keraton Solo itu, menurutnya, semata-mata untuk kebaikan. Tujuannya jelas: menjaga kelestarian warisan sejarah yang ada.

Fadli Zon menyampaikan hal itu usai menyerahkan Surat Keputusan resmi kepada KGPA Tedjowulan di Sasana Handrawina, Keraton Solo, Minggu lalu.

"Dari kacamata pemerintah, langkah ini penting untuk penjagaan cagar budaya," tegasnya.

Sebelum acara, menteri itu sempat berkeliling. Dan apa yang dilihatnya cukup memprihatinkan. Banyak bangunan di area keraton tampak kurang terawat, bahkan nyaris terbengkalai. Menurut Fadli, kondisi itu membuat revitalisasi jadi sesuatu yang tak bisa ditunda lagi.

"Tadi saya lihat sendiri di belakang, banyak bangunan yang kurang terawat. Kita harap ini bisa direvitalisasi agar Keraton Kasunanan Surakarta bisa menjadi objek wisata budaya, sejarah, kuliner, hingga wisata religi. Potensinya sangat besar, ini akan baik untuk keluarga besar keraton, untuk masyarakat Solo, dan kita semua," ujar dia.

Di sisi lain, Fadli Zon berusaha meluruskan soal komunikasi dengan PB XIV Purbaya. Pihak kementerian, klaimnya, selalu berupaya menjalin dialog. Bahkan untuk acara penyerahan SK itu pun, undangan telah dikirimkan. Namun sayangnya, mereka memilih untuk tidak hadir.

"Mereka selalu kita undang. Tapi waktu diundang, mereka tidak datang. Jadi sebenarnya kita ingin kooperatif, itu yang kita harapkan. Pak Dirjen selalu mengundang mereka, termasuk acara tadi pun diundang," ucapnya, mencoba menjelaskan situasi yang dianggapnya kurang harmonis itu.

Jadi, begitulah adanya. Pemerintah merasa langkahnya sudah tepat, sementara satu pihak di internal keraton masih keberatan. Yang jelas, perhatian kini tertuju pada nasib bangunan-bangunan bersejarah itu. Akankah upaya revitalisasi bisa berjalan mulus? Waktu yang akan menjawab.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar