Gencatan Senjata Fase Kedua Gaza: Janji di Atas Kertas, Derita yang Tak Berubah

- Sabtu, 17 Januari 2026 | 18:35 WIB
Gencatan Senjata Fase Kedua Gaza: Janji di Atas Kertas, Derita yang Tak Berubah

Steve Witkoff, utusan khusus Amerika Serikat untuk Timur Tengah, baru-baru ini mengumumkan dimulainya fase kedua gencatan senjata di Gaza. Menurutnya, fokus kini bakal bergeser ke hal-hal yang lebih kompleks: demiliterisasi, pembentukan pemerintahan teknokratis, dan tentu saja, rekonstruksi wilayah yang porak-poranda itu.

Tapi di lapangan, ceritanya lain sama sekali. Bagi warga Gaza yang hidup di tengah reruntuhan, pengumuman itu terdengar hampa. Seperti dilaporkan AFP dan Anadolu Agency pada Sabtu (17/1/2026), banyak yang merasa tak ada bedanya antara fase pertama dan yang kedua ini.

“Semua orang khawatir dan frustrasi karena tidak ada yang berubah,” ujar Mahmoud Abdel Aal, yang kini menghuni sebuah tenda pengungsian di Gaza City.

Dia menggambarkan suasana hati kebanyakan warga yang muak dan cemas. Sejak Rabu (14/1) waktu setempat, saat fase kedua secara resmi dimulai, situasi di kantong Palestina itu tetap sama saja mencekam.

“Tidak ada perbedaan antara perang dan gencatan senjata, tidak ada juga perbedaan antara fase pertama dan fase kedua dalam kesepakatan: serangan-serangan terus berlanjut setiap hari,” tuturnya lagi, suaranya penuh kepedihan.

Pendapat serupa datang dari Ahmad Suleiman, warga Gaza lainnya. Baginya, pemberitaan media tentang fase kedua ini terlalu ramai, jauh dari kenyataan pahit yang ia alami sehari-hari.

“Tidak ada gencatan senjata, lihat saja apa yang dihasilkan oleh gencatan senjata ini,” katanya kepada AFP, sambil tangannya menunjuk ke sekeliling, ke bangunan-bangunan yang sudah berubah menjadi tumpukan puing.

Gencatan senjata ini sebenarnya sudah berlaku sejak Oktober 2025 lalu. Fase pertamanya mencakup penghentian pertempuran antara Hamas dan Israel, penarikan sebagian pasukan Israel, pertukaran tawanan, serta masuknya bantuan kemanusiaan meski akses penuh yang dijanjikan tak kunjung terwujud.

Namun begitu, bagi mereka yang masih bertahan di Gaza, janji-janji di atas kertas itu terasa begitu jauh. Yang mereka lihat dan dengar setiap hari tetap sama: dentuman, ketakutan, dan kehancuran yang seolah tak pernah berakhir.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar