Pendapat serupa datang dari Ahmad Suleiman, warga Gaza lainnya. Baginya, pemberitaan media tentang fase kedua ini terlalu ramai, jauh dari kenyataan pahit yang ia alami sehari-hari.
“Tidak ada gencatan senjata, lihat saja apa yang dihasilkan oleh gencatan senjata ini,” katanya kepada AFP, sambil tangannya menunjuk ke sekeliling, ke bangunan-bangunan yang sudah berubah menjadi tumpukan puing.
Gencatan senjata ini sebenarnya sudah berlaku sejak Oktober 2025 lalu. Fase pertamanya mencakup penghentian pertempuran antara Hamas dan Israel, penarikan sebagian pasukan Israel, pertukaran tawanan, serta masuknya bantuan kemanusiaan meski akses penuh yang dijanjikan tak kunjung terwujud.
Namun begitu, bagi mereka yang masih bertahan di Gaza, janji-janji di atas kertas itu terasa begitu jauh. Yang mereka lihat dan dengar setiap hari tetap sama: dentuman, ketakutan, dan kehancuran yang seolah tak pernah berakhir.
Artikel Terkait
Pegawai Toko Rempah di Cisarua Tewaskan Majikan Pasutri Pakistan
Prabowo Pimpin Silaturahmi Langka, Hadirkan SBY dan Jokowi di Istana
Pembalap MotoGP Mir dan Marini Menyelami Budaya Bali di Sela Jadwal Balap
OJK Catat Kredit Perbankan Tumbuh 9,96% di Awal 2026, Kredit Investasi Melonjak 22,38%