Bukan cuma satu. Ada lagi pengendara lain yang berusaha cari-cari alasan. Katanya, dia cuma mau belok kiri dan terpaksa ambil lajur kanan dengan cara nyelonong. Alasannya? Rumahnya cuma di depan sana. Ya, klaim seperti itu sering kita dengar.
"Rumah saya di depan sini," dalihnya.
"Iya, emang ini jalannya? Jalannya di situ. Kalau Bapak lewat situ, nggak akan saya berhentiin," sanggah petugas dengan tenang, meski mungkin sudah geleng-geleng dalam hati.
"Tapi rumah saya di situ," si pengendara bersikeras.
Petugas akhirnya memilih memberi teguran. "Untuk sementara, kami berikan tindakan teguran. Tapi jangan diulangi lagi," ujar petugas lainnya. Teguran memang jadi langkah pertama yang humanis, meski kadang efek jerahnya dipertanyakan.
Di sisi lain, operasi ini juga menjaring pelanggar lain. Salah satunya pengendara yang melawan arus plus tak pakai helm. Kepadanya, polisi memberikan tindakan yang sedikit berbeda: squat jump. Setelah beberapa kali jongkok-berdiri, barulah dia dapat wejangan dan imbauan untuk taat aturan.
Kejadian seperti ini seolah jadi potret rutin di jalanan Ibu Kota. Di satu sisi, ada upaya penertiban. Di sisi lain, kesadaran dan kedisplinan pengendara masih sering jadi masalah. Yang jelas, adu mulut dan aksi kabur seperti di Adhyaksa itu bukan solusi. Malah bikin suasana tambah runyam.
Artikel Terkait
Besok di CFD, Warga Jakarta Bisa Daftar Kartu Layanan Gratis Langsung Jadi
Trump Ancang-ancang Kenakan Tarif ke Negara yang Tolak Ambisi AS atas Greenland
Perempuan Kabur dari Rumah karena Masalah Keluarga, Ditemukan Polisi di Kedai Kopi
BPJS Kesehatan Apresiasi 27 Faskes Pelopor Digitalisasi Layanan JKN