Di kompleks perkantoran Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang yang mulai berbenah, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam. Apresiasi itu ditujukan untuk para Praja IPDN dan ASN Kemendagri yang baru saja menyelesaikan penugasan kemanusiaan pascabencana. Menurutnya, dedikasi dan kerja keras mereka patut diacungi jempol.
“Adik-adik saya yang saya cintai, praja IPDN yang bertugas selama kurang sebulan, saya bangga dengan Adik-adik,”
ucap Tito, Selasa (3/2/2026) lalu. Ia saat itu memimpin apel pemulangan untuk gelombang pertama, yang diikuti oleh lebih dari seribu orang.
Dalam amanatnya, Tito menilai perkembangan di Aceh Tamiang terlihat sangat baik. Hanya dalam kurun sebulan, kompleks perkantoran yang semula terendam lumpur sudah bisa difungsikan kembali. Aktivitas pemerintahan pun perlahan mulai berdenyut. “Kemudian kantor-kantornya sebagian besar sudah bersih,” katanya.
Ia juga menyoroti peran ASN Kemendagri yang tak hanya membersihkan, tapi juga mendampingi dan membesarkan semangat rekan-rekan mereka di Aceh Tamiang. “Agar tidak merasa sendiri,” tambahnya.
Memang, bencana waktu itu sempat melumpuhkan total aktivitas pemerintahan. Hampir semua gedung terdampak. Karena itulah, Kemendagri bersama berbagai pihak TNI, Polri, kementerian lain, dan pemda langsung memobilisasi sumber daya. Pengerahan praja dan ASN, dilengkapi peralatan berat, dilakukan untuk mempercepat pembersihan.
“Jadi ini adalah the right time and the right place,” terang Tito.
Ia pun menyebutkan kolaborasi dengan elemen lain seperti Akmil, Akpol, hingga Unhan.
Namun begitu, dukungan ini belum berakhir. Tito memastikan bantuan akan terus mengalir. Gelombang kedua yang terdiri dari 769 orang rencananya akan turun lagi pada 6 Februari. Tujuannya jelas: melanjutkan pemulihan di perkantoran dan fasilitas umum lainnya.
“Kita bantu, jangan nanggung-nanggung. Kita bantu Kabupaten Aceh Tamiang,”
tegasnya. Baginya, ini adalah bukti nyata peran Kemendagri sebagai pembina dan pengawas pemerintahan daerah.
Di sisi lain, Tito melihat penugasan ini sebagai pengalaman langka. Selain sebagai operasi kemanusiaan, momen ini adalah ruang praktik langsung bagi para praja dan ASN untuk menerapkan ilmu di lapangan yang sesungguhnya. Sebuah pelajaran yang berharga.
“Kita akan berikan juga sertifikat. Sertifikat yang nanti menjadi kenang-kenangan seumur hidup,”
ujarnya. Ia menyadari, tidak semua orang mendapat kesempatan seperti ini untuk turun langsung ke lokasi bencana dan berkontribusi memecahkan masalah nyata.
Apel penutupan itu sendiri dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi. Di antaranya Wakil Mendagri Bima Arya Sugiarto dan Akhmad Wiyagus, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, serta Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi. Forkopimda setempat juga hadir menyaksikan penarikan tim gelombang pertama ini.
Artikel Terkait
Persib dan Borneo FC Imbang Poin di Puncak Klasemen, Laga Kontra Persija Jadi Penentu Gelar Liga 1
Empat Korban Penyiraman Air Keras di Tasikmalaya Masih Dirawat Intensif, Pelaku Terungkap Motif Sakit Hati
Borneo FC Kalahkan Persita 2-0, Manfaatkan Keunggulan Jumlah Pemain
Polda NTT Bongkar 27 Kasus Penyalahgunaan BBM Subsidi, Negara Rugi Rp10,16 Miliar