Klaim datang dari Washington. Gedung Putih dengan tegas menyatakan bahwa pemerintah Iran membatalkan ratusan eksekusi mati yang telah dijadwalkan. Apa penyebabnya? Tekanan langsung dari Presiden AS Donald Trump, yang terus mengkritik tindakan keras Teheran terhadap para demonstran.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, memberikan pernyataan ini kepada awak media pada Kamis lalu.
"Presiden memahami hari ini bahwa 800 eksekusi mati yang dijadwalkan dan seharusnya dilakukan kemarin telah dihentikan," ujarnya.
Namun begitu, nada peringatan tidak serta merta hilang. Leavitt menegaskan bahwa semua opsi, termasuk tindakan militer, masih sangat terbuka di meja Presiden Trump. Ia menambahkan bahwa presiden telah menyampaikan ancaman konsekuensi serius jika pembunuhan terhadap pengunjuk rasa terus terjadi.
Di sisi lain, dari Teheran datang bantahan yang tak kalah keras. Pemerintah Iran sejak awal telah menepis kabar rencana eksekusi massal terhadap para demonstran tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, bahkan menyempatkan diri memberikan klarifikasi langsung ke media AS, Fox News, di hari Rabu. Ia ingin memutus siklus informasi yang ia sebut sebagai propaganda.
"Tidak ada hukuman gantung, hari ini atau besok. Saya bisa katakan dengan yakin, tidak ada rencana untuk melakukan hukuman gantung sama sekali," tegas Araghchi.
Jadi, kita dihadapkan pada dua narasi yang saling bertolak belakang. Satu menyebut keberhasilan tekanan diplomatik, yang lain menyangkal sama sekali keberadaan rencana itu. Situasinya masih berkembang, dan dunia menunggu langkah selanjutnya.
Artikel Terkait
Rem Blong Truk Hino Tewaskan Dua Pemuda dan Lukai Satu Orang di Sidrap
Gus Dur Pakai Bahasa Arab untuk Kibuli Intel Orde Baru di Muktamar NU
Lebih dari 2,5 Juta Warga Indonesia Hidap Penyakit Autoimun, Angka Kematian Diprediksi Capai 35.000
Gempa Magnitudo 4,3 Guncang Wilayah Timur Laut Jayapura