Suasana di Desa Butuh, Boyolali, Kamis lalu, terasa berbeda. Di tengah riuh rendah perayaan Hari Desa Nasional, Menteri Yandri Susanto berdiri untuk memimpin sebuah deklarasi. Acara puncak itu bukan sekadar seremoni belaka. Menurut Yandri, "Deklarasi Boyolali" yang dicanangkannya itu dimaksudkan jadi fondasi kokoh untuk mewujudkan salah satu janji presiden: memajukan desa di seluruh Indonesia, atau yang dikenal sebagai Asta Cita ke-6 Prabowo Subianto.
Isi deklarasinya sendiri mencakup tiga poin kunci. Intinya, ada komitmen kuat untuk menjalankan program-program prioritas presiden. Lalu, penguatan kolaborasi antar berbagai sektor untuk mendukung swasembada pangan dan energi, program Makan Bergizi Gratis, hingga penguatan BUM Desa. Yang ketiga, penegasan bahwa masyarakat desa harus jadi pelaku utama pembangunan, terutama menuju target Indonesia Emas 2045.
“Pesan Bapak Presiden Prabowo, kita ini bukan Superman, tapi kita adalah Super Team,”
ujar Yandri dalam keterangan tertulisnya.
“Maka saya mengajak di Hari Desa Nasional ini, ayo kita tumbuhkan dan bangkitkan energi positif kita, Bapak-Ibu.”
Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Yandri menegaskan, peran desa selama ini memang sentral dan strategis. Bayangkan saja, desa-desa itu penyuplai bahan pangan, tenaga kerja, dan bahan baku industri. Mereka lah yang menopang kebutuhan kota-kota besar dan pembangunan nasional selama ini. Karena itu, dia berharap semua elemen di desa bisa bergotong-royong. Menurutnya, dengan cara itulah pekerjaan berat jadi ringan, persatuan menguat, dan pembangunan benar-benar dirasakan sebagai milik bersama.
“Hilangkan praduga-praduga yang tidak bermutu dan tidak perlu,”
Artikel Terkait
Tito Karnavian: Sumbar Dipastikan Pulih Sebelum Ramadan
NATO Kirim Pasukan ke Greenland, Waspadai Ancaman Rusia dan China di Arktik
Bobby Nasution Bongkar Hitungan Fantastis Rp 69,47 Triliun untuk Pulihkan Sumut
Di Ujung Vonis: Kisah Sarah Mardini dan Ujian Solidaritas Eropa