Sekolah Rakyat: Menjemput Yang Tak Terlihat dari Tepian Negeri

- Kamis, 15 Januari 2026 | 09:15 WIB
Sekolah Rakyat: Menjemput Yang Tak Terlihat dari Tepian Negeri

Enam bulan tentu waktu yang singkat untuk mengatasi persoalan turun-temurun. Tapi periode itu cukup untuk melihat tanda-tanda awal. Ketika anak merasa aman dan diperhatikan, mereka akan tumbuh.

Perubahan paling nyata terlihat di kesehatan. Berat dan tinggi badan meningkat, kebugaran membaik, kasus anemia menurun. Bahkan, banyak seragam sekolah yang sudah tidak muat lagi hanya dalam tiga bulan. Hal ini sederhana, tapi fundamental. Anak yang sehat punya peluang belajar lebih baik.

Perlahan, mental dan perilaku mereka berubah. Lebih disiplin, lebih santun, tidak mudah mengantuk di kelas, dan mandiri. Banyak yang mulai meraih prestasi.

Di bidang akademik, kemajuan dimulai dari hal paling dasar. Anak yang belum lancar membaca mulai mengeja dengan percaya diri. Pemetaan talenta mengungkap potensi beragam: ada yang kuat di STEM, ada yang menonjol di sosial, ada pula yang berbakat di bahasa.

Namun, yang paling menggetarkan sering datang dari orang tua. Saat anak-anak pulang sebentar setelah beberapa bulan, pesan yang kami terima sederhana namun dalam.

Di sinilah keyakinan kami kian kuat. Sekolah Rakyat tidak hanya mengubah seorang anak. Ia memulihkan harapan di dalam satu keluarga.

Memutus Rantai, Menguatkan Keluarga

Sesuai Inpres No. 8 Tahun 2025, Sekolah Rakyat adalah bagian dari strategi pengentasan kemiskinan yang holistik. Maka, ikhtiar ini tidak berhenti pada anak. Kondisi sosial ekonomi keluarga siswa juga dipetakan.

Keluarga mereka akan mendapat intervensi menyeluruh: bantuan sosial, jaminan kesehatan, perbaikan rumah tidak layak huni, program pemberdayaan, hingga fasilitasi menjadi anggota Koperasi Merah Putih. Tujuannya jelas: bukan cuma anaknya yang "naik kelas", tapi keluarganya pun ikut berdaya.

Menyambung Masa Depan Setelah Lulus

Semua ini harus berkelanjutan. Anak-anak tidak boleh berhenti begitu keluar dari bangku Sekolah Rakyat. Mereka perlu terus dibimbing, baik untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi, menjadi pekerja terampil, maupun wirausaha mandiri.

Untuk lulusan yang kompeten, khususnya dari jenjang menengah pertama, kami bimbing untuk mengikuti seleksi masuk SMA Garuda. Sementara, hasil wawancara dengan lebih dari 6.000 siswa jenjang atas menunjukkan 75,3% ingin kuliah, dan 24,7% memilih jalur vokasi atau wirausaha.

Karena itu, kerja sama dijalin dengan berbagai kementerian, lembaga, BUMN, universitas, dan dunia usaha. Mulai dari pendampingan beasiswa, pelatihan keterampilan, hingga penyediaan peluang kerja.

Semua berangkat dari satu keyakinan: tidak ada ciptaan Tuhan yang sia-sia. Setiap manusia unik, dan keunikan itulah kekuatannya. Jika dirawat dan diarahkan, itu akan menjadi modal untuk meraih masa depan.

Menulis Sejarah dengan Kerja Kolektif

Sekolah Rakyat adalah kerja kolektif. Terima kasih tak terhingga untuk semua pihak yang terlibat kementerian/lembaga, pemerintah daerah, TNI-Polri, para guru, wali asuh, tenaga kependidikan, pendamping sosial, dan tentu saja, para orang tua yang menitipkan harapan mereka.

Kami ingin gagasan ini dikenang sebagai sebuah peristiwa sejarah. Saat harapan tidak lagi diwariskan sebagai kenangan pahit masa lalu, melainkan disiapkan sebagai bekal menuju masa depan.

Dan kelak, ketika anak-anak dari tepian sungai, lereng bukit, dan sudut-sudut negeri ini berdiri sejajar di tengah bangsa, mungkin orang akan berkata pelan: dulu, pernah ada seorang presiden yang menanam harapan dan menamainya Sekolah Rakyat. Presiden itu adalah Jenderal TNI (Purnawirawan) Prabowo Subianto.


Halaman:

Komentar