Gelombang demonstrasi besar yang mengguncang Iran sejak akhir tahun lalu punya akar masalah yang jelas: ekonomi yang ambruk dan mata uang yang nyaris tak bernilai. Aksi massa yang dimulai Desember 2025 itu adalah ledakan kekecewaan rakyat setelah sekian lama menahan beban.
Lihat saja nilai riyal sekarang. Pada Selasa, 13 Januari 2026, satu riyal Iran bahkan tak sampai seharga satu rupiah. Angkanya cuma sekitar Rp 0,015. Lebih parah lagi, kalau dibandingkan dolar AS, nilainya benar-benar nol. Sebaliknya, untuk mendapat satu dolar AS, Anda butuh 1,137 juta riyal. Sungguh situasi yang sukar dibayangkan.
Padahal, belum lama ini, tepatnya 6 Januari, riyal sempat menyentuh titik terendah yang lebih mengerikan: 1,4 juta riyal untuk satu dolar AS. Bandingkan dengan era Revolusi Iran 1979, di mana satu dolar cuma ditukar dengan 70 riyal. Perubahannya dramatis dan menghancurkan.
Inflasi Menggerogoti Segalanya
Dalam beberapa tahun terakhir, hiperinflasi dan nilai tukar yang anjlok telah mengubah total wajah ekonomi Iran. Menurut data resmi Bank Sentral mereka, inflasi tahunan rata-rata selama delapan tahun terakhir mencapai 43 persen. Angka yang fantastis dan melelahkan.
Sebagai gambaran, inflasi Indonesia di tahun 2025 tercatat 2,92 persen saja sudah dianggap yang tertinggi sejak pandemi. Nah, bayangkan dampak inflasi puluhan persen yang bertahun-tahun itu. Secara kumulatif, harga barang dan jasa di Iran melonjak lebih dari 17 kali lipat. Daya beli mayoritas penduduk, sekitar 94 persen, tergerus habis.
Lalu, bagaimana dengan emas? Logam mulia ini sering jadi pelarian saat mata uang melemah. Harga emas global sendiri naik signifikan, sekitar 230 persen dari 2018 ke 2026. Tapi di Iran, kenaikannya jauh lebih gila.
Harga emas 18 karat yang paling populer di sana melonjak dari sekitar 1,3 juta riyal per gram menjadi lebih dari 160 juta riyal per gram. Itu artinya kenaikan fantastis sebesar 11.475 persen, atau naik lebih dari 115 kali lipat!
Seandainya harga emas global stabil, kenaikan di Iran mungkin hanya mengikuti depresiasi riyal terhadap dolar. Namun, kenyataannya, kenaikan global yang terjadi justru memperparah trauma finansial yang sudah ada. Rakyat terjepit dari segala sisi.
Lalu, Apa Penyebab Utama Keruntuhan Ini?
Banyak yang menyalahkan kombinasi mematikan: sanksi internasional, inflasi tak terkendali, dan isolasi diplomatik. Pemicu terbaru adalah kembalinya sanksi PBB pada September 2025.
Sanksi itu diberlakukan setelah Dewan Keamanan gagal mengesahkan resolusi untuk memperpanjang keringanan. Keringanan tersebut sebelumnya terkait dengan kesepakatan untuk membatasi program nuklir Iran.
Akibatnya, berbagai pembatasan lama kembali aktif. Mulai dari embargo senjata konvensional, pembatasan program rudal balistik, pembekuan aset target tertentu, sampai larangan perjalanan bagi sejumlah orang.
Uni Eropa pun tak ketinggalan. Mereka menerapkan sanksi serupa, plus sanksi tambahan terkait isu hak asasi manusia dan peran Iran dalam menyuplai drone ke Rusia untuk perang di Ukraina. Tekanan dari segala penjuru ini, rupanya, menjadi pukulan telak bagi perekonomian yang sudah sempoyongan.
Artikel Terkait
Macron Serukan Koalisi Kemerdekaan untuk Lawan Dominasi AS dan China
Iran Klaim Tembak Jatuh Dua Jet Tempur AS, Bantah Klaim Trump Soal Pertahanan Udara
Akademisi Soroti Troll Army sebagai Alat Baru Propaganda Politik di Era Digital
Trump Ancam Rebut Pulau Kharg, Ultimatum AS ke Iran Berakhir 6 April