Dengan tinggal di asrama, semua kebutuhan dasarnya terpenuhi. Terapinya pun jadi lebih intensif dan teratur. Jadwalnya jelas: terapi okupasi dan fisioterapi disesuaikan sepenuhnya dengan kebutuhannya. Hasilnya? Tentu lebih optimal.
Cerita sakit Adriyan sendiri bermula saat usianya masih 11 bulan. Kala itu, dia mengalami kejang hebat. Kejadian itu berdampak serius, menghambat perkembangannya. Tubuhnya mati rasa, bahkan sampai lumpuh total. Parahnya, saat dicubit pun dia tidak bereaksi sama sekali.
Menilik rekam medis anaknya, Hamdayu yakin pilihannya membawa Adriyan ke Pangudi Luhur itu tepat. Alasannya sederhana: pelayanannya terintegrasi. Sambil menunggu perkembangan terapi Adriyan, misalnya, Hamdayu sendiri sempat ikut kegiatan vokasional menjahit yang disediakan sentra. Jadi, bukan cuma pasien yang dibantu, tapi juga keluarganya diberdayakan.
Harapannya kini hanya satu. “Semoga ke depan Adriyan menunjukkan banyak kemajuan dan bisa pulih serta tumbuh seperti anak-anak lainnya,” tutup Hamdayu penuh harap.
Artikel Terkait
Nahkoda Ungkap Gaji Mandek Usai Majikan Jadi Tersangka Korupsi
Trump Desak Penguasaan Greenland demi Golden Dome Jelang Pertemuan Diplomatik
Mobil Rubicon Atas Nama Asisten, Saksi di Sidang Tipikor Cuma Bilang Tak Tahu
Wiyagus: Indonesia Maju Jika Desa Tak Lagi Jadi Pengekor