Kendi Pecah di Klaten, 19 Jembatan Merah Putih Resmi Hidup untuk Warga

- Rabu, 14 Januari 2026 | 17:40 WIB
Kendi Pecah di Klaten, 19 Jembatan Merah Putih Resmi Hidup untuk Warga

Rabu siang (14/1/2026) di Desa Cucukan, Klaten, suasana tampak berbeda. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo baru saja tiba, sekitar pukul tiga sore. Ia tak sendirian. Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, dan Kapolda setempat, Irjen Ribut Hari Wibowo, mendampinginya. Agenda hari itu adalah peresmian serentak 19 Jembatan Merah Putih Presisi yang tersebar di wilayah hukum Polda Jawa Tengah.

Ini adalah bentuk kehadiran negara lewat Polri, kata mereka, untuk membantu mobilitas warga. Konektivitas antarwilayah jadi fokus utamanya.

Prosesinya berlangsung khidmat. Setelah menandatangani prasasti, Jenderal Sigit memecahkan kendi berisi air bunga. Dalam falsafah Jawa, ritual ini punya makna mendalam. Pemecahan kendi menandai terbukanya jalan kehidupan, sekaligus penyerahan jembatan yang sudah tuntas dibangun agar 'hidup' dan membawa keselamatan. Air adalah simbol kehidupan yang mengalir, sementara bunga mewakili doa dan niat baik yang ikut dilepaskan untuk masyarakat.

“Saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya pada seluruh Jajaran Polda Jawa Tengah, dan pihak terkait yang telah bekerja keras menyukseskan terselenggaranya acara ini,” ujar Sigit.

Ia melanjutkan, pembangunan ini adalah wujud komitmen Polri menjalankan perintah Presiden. Tujuannya jelas: meningkatkan pelayanan dan kesejahteraan. “Sehingga dapat mempermudah mobilitas masyarakat terutama anak-anak untuk dapat bersekolah dengan aman, mendukung aktivitas ekonomi, pemulihan infrastruktur, dan memperkuat akses antarwilayah, khususnya di daerah yang membutuhkan infrastruktur penunjang,” sambungnya.

Jembatan yang jadi pusat peresmian di Klaten ini punya cerita. Membentang 30 meter di atas Sungai Dengkeng, ia menghubungkan Desa Cucukan dengan Desa Kotesan. Dibangun pertama kali pada 1981, jembatan ini hancur diterjang banjir sungai itu di tahun 2021. Kini, setelah dibangun ulang dengan panjang 15 meter dan lebar 4 meter, manfaatnya langsung dirasakan. Dua desa, 11 dukuh, dan hampir 900 kepala keluarga terbantu. Empat sekolah dengan total 371 siswa kini punya akses yang jauh lebih aman.

Selain meresmikan, mantan Kabareskrim ini juga bagi-bagi bantuan sosial. Bantuan simbolis itu diserahkan kepada perwakilan anak sekolah, warga kurang mampu, sampai kelompok tani di sekitar lokasi.

Usai acara, Sigit tak langsung pergi. Dia menyempatkan diri naik ke badan jembatan, meninjau langsung hasil pembangunan. Sejumlah pejabat Mabes Polri dan Forkopimda Jateng juga ikut serta.

Lalu, bagaimana dengan proyek jembatan lainnya? Ternyata, 19 jembatan yang diresmikan hari ini hanya bagian dari program lebih besar. Polda Jateng sendiri tengah membangun 63 jembatan. Selain yang sudah diresmikan, ada 15 yang masih dalam pengerjaan, 4 dalam tahap persiapan, dan 25 lainnya masih disurvei dan direncanakan.

Angkanya secara nasional juga cukup signifikan. Polri mencatat, hingga saat ini sudah ada 178 unit jembatan yang diperbaiki atau dibangun di seluruh Indonesia. Rinciannya, 58 unit selesai, 32 unit sedang dibangun, 6 unit jembatan Bailey masih dikirim, dan 82 unit lagi dalam tahap perencanaan.

Yang menarik, 34 unit di antaranya dibangun khusus di wilayah terdampak bencana. Dari jumlah itu, 17 sudah selesai, 3 masih proses, 6 jembatan Bailey lagi dalam pengiriman, dan 8 unit lainnya masih direncanakan. Upaya ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur dasar tetap berjalan, bahkan di daerah yang sedang berusaha pulih.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar