Setelah Dua Dekade, Tiang Monorel Mangkar Akhirnya Dibongkar

- Rabu, 14 Januari 2026 | 09:35 WIB
Setelah Dua Dekade, Tiang Monorel Mangkar Akhirnya Dibongkar

Rabu pagi di Rasuna Said, suasana sedikit berbeda. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, berdiri di dekat Halte LRT Setia Budi. Ia menatap deretan tiang besi monorel yang sudah karatan dan mangkrak bertahun-tahun. Kali ini, ia datang untuk menyaksikan akhir dari 'monumen' itu. Menariknya, mantan Gubernur Sutiyoso atau Bang Yos, yang dulu meresmikan proyek ini, turut mendampingi.

Pukul 08.57 WIB, Pramono dengan kemeja dinas putihnya sudah berada di lokasi. Di sampingnya, ada Wagub Rano Karno, Sekda Uus Kuswanto, serta sejumlah kepala dinas terkait seperti Syafrin Liputo (Dishub) dan Heru Suwondo (Bina Marga). Mereka tampak serius mengamati tiang-tiang yang akan segera dipotong. Suara bising lalu lintas menjadi latar yang tak terhindarkan.

Tak jauh dari situ, alat berat dan mesin las potong sudah disiapkan. Persis pukul 09.07 WIB, petugas Bina Marga mulai bekerja. Bunyi mesin memecah kesunyian pagi, memotong besi pertama. Pramono dan rombongan menyaksikan proses itu dalam diam. Akhirnya, aset yang terlantar itu mulai dibongkar.

Di sisi lain, arus lalu lintas tetap harus dijaga. Petugas Dishub berjaga di beberapa titik, mengatur kendaraan yang melintas. Satu mobil operasional Dishub diparkir dengan pesan di layar LED-nya.

“Patuhi rambu lalu lintas dan ikuti arahan petugas di Lapangan. Mohon maaf perjalanan Anda terganggu,”

Begitu bunyinya. Meski satu jalur lambat ditutup, situasi di Rasuna Said arah Gatot Subroto terpantau masih ramai lancar. Kendaraan bergerak pelan, tapi tak sampai macet total.

Menurut data yang beredar, ada 98 tiang monorel yang masih berdiri dari Rasuna Said hingga Jalan Asia Afrika. Jumlah yang tidak sedikit untuk sebuah proyek yang gagal.

Cerita monorel ini sebenarnya sudah panjang. Bermula di tahun 2004, saat Presiden Megawati Soekarnoputri menekan tombol sirene untuk pemancangan tiang pertama. Saat itu, Gubernur DKI adalah Sutiyoso. Sempat dianggap sebagai solusi transportasi, proyek senilai USD 450 juta ini akhirnya terhenti. Masalahnya klasik: pendanaan.

PT Jakarta Monorail (PT JM) sebagai pengembang dikabarkan kelimpungan memenuhi syarat investasi. Mereka butuh tambahan dana segar sekitar USD 144 juta, yang tak kunjung datang. Alhasil, tiang-tiang itu pun dibiarkan begitu saja, menjadi simbol kegagalan yang menyolok mata.

Era kepemimpinan Gubernur Fauzi Bowo pada 2011 kemudian memutuskan untuk menghentikan proyek secara resmi. PT JM sempat meminta ganti rugi fantastis, Rp 600 miliar. Namun Pemprov DKI di bawah Foke bersikukuh hanya akan membayar sesuai rekomendasi BPKP. Negosiasi alot itu berakhir tanpa titik terang, meninggalkan tiang-tiang itu berdiri dalam diam.

Dan hari ini, setelah dua dekade lebih, proses pembongkaran akhirnya dimulai. Sebuah babak baru, atau setidaknya, penutup untuk sebuah kisah yang sudah terlalu lama menggantung.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar