Menurut data yang beredar, ada 98 tiang monorel yang masih berdiri dari Rasuna Said hingga Jalan Asia Afrika. Jumlah yang tidak sedikit untuk sebuah proyek yang gagal.
Cerita monorel ini sebenarnya sudah panjang. Bermula di tahun 2004, saat Presiden Megawati Soekarnoputri menekan tombol sirene untuk pemancangan tiang pertama. Saat itu, Gubernur DKI adalah Sutiyoso. Sempat dianggap sebagai solusi transportasi, proyek senilai USD 450 juta ini akhirnya terhenti. Masalahnya klasik: pendanaan.
PT Jakarta Monorail (PT JM) sebagai pengembang dikabarkan kelimpungan memenuhi syarat investasi. Mereka butuh tambahan dana segar sekitar USD 144 juta, yang tak kunjung datang. Alhasil, tiang-tiang itu pun dibiarkan begitu saja, menjadi simbol kegagalan yang menyolok mata.
Era kepemimpinan Gubernur Fauzi Bowo pada 2011 kemudian memutuskan untuk menghentikan proyek secara resmi. PT JM sempat meminta ganti rugi fantastis, Rp 600 miliar. Namun Pemprov DKI di bawah Foke bersikukuh hanya akan membayar sesuai rekomendasi BPKP. Negosiasi alot itu berakhir tanpa titik terang, meninggalkan tiang-tiang itu berdiri dalam diam.
Dan hari ini, setelah dua dekade lebih, proses pembongkaran akhirnya dimulai. Sebuah babak baru, atau setidaknya, penutup untuk sebuah kisah yang sudah terlalu lama menggantung.
Artikel Terkait
KPK Periksa Sekcam hingga Enam Pengusaha Terkait Kasus Ijon Rp 9,5 Miliar di Bekasi
Dendam Utang Tuntaskan Nyawa, Dua Sahabat Lama Jadi Tersangka Pembunuhan di Bekasi
Dua Eksekutor Pembunuhan di TPU Jakasampurna Diringkus, Ikat Pinggang Jadi Barang Bukti Kunci
Sugiono Candakan Kekurangan Wakil Menteri di Tengah Kesibukan Kemlu