Prabowo Luncurkan Sekolah Rakyat, Rekrut Murid dengan Sistem Jemput Bola

- Selasa, 13 Januari 2026 | 15:00 WIB
Prabowo Luncurkan Sekolah Rakyat, Rekrut Murid dengan Sistem Jemput Bola

Senin lalu, di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Presiden Prabowo Subianto secara resmi meluncurkan program Sekolah Rakyat. Peresmian itu sekaligus menandai beroperasinya 166 sekolah yang tersebar di 35 titik di seluruh Indonesia. Rinciannya, 70 titik di Jawa, tujuh di Bali dan Nusa Tenggara, 13 di Kalimantan, 28 di Sulawesi, tujuh di Maluku, dan enam titik di Papua.

Inti dari Sekolah Rakyat ini sebenarnya cukup jelas: mendorong percepatan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin. Namun begitu, cara merekrut muridnya yang unik langsung mencuri perhatian. Mereka tidak membuka pendaftaran seperti sekolah pada umumnya.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf, atau yang akrab disapa Gus Ipul, usai menghadiri acara itu menjelaskan lebih lanjut.

"Sekolah Rakyat tidak membuka pendaftaran, tapi kita membuka seleksi dengan mendatangi rumah-rumah keluarga yang menjadi target," ujar Gus Ipul.

Jadi, sistemnya adalah jemput bola. Tim pendamping akan langsung mendatangi rumah calon siswa yang menjadi sasaran.

Gagasan di balik program ini memang terdengar berbeda. Sebelumnya, Muhammad Nuh, Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat, sudah memberi gambaran. Menurutnya, kualifikasi murid di sini punya ciri khusus.

"Jadi ide dasarnya itu berbeda. Anak-anak yang pintar kemudian sukses, itu banyak contohnya. Tapi (Sekolah Rakyat) ini nggak. Ini miskin tapi nggak jelas pintarnya. Nakalnya pun juga nggak jelas. Syaratnya hanya miskin saja," ungkap M. Nuh.

Di sisi lain, target pemerintah melalui program ini cukup ambisius: mengentaskan kemiskinan lewat pendidikan. Gus Ipul menyebut, ini adalah jalan yang ditempuh Prabowo untuk mempersiapkan anak-anak kurang mampu agar bisa berkontribusi menyongsong Generasi Emas 2045. Karena itu, ada target dibangunnya 500 Sekolah Rakyat dalam lima tahun ke depan.

"Sasaran kita adalah 500 sekolah rakyat sampai tahun 2029 insyaallah akan tercapai dan saya minta maaf kami masih belum bisa menghasilkan lebih banyak dari sekarang ini pun usahanya sudah luar biasa," tambahnya.

"

Sementara itu, kabar kurang menyenangkan datang dari Grobogan, Jawa Tengah. Ratusan orang di Kecamatan Gubug diduga keracunan usai menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan Jumat lalu. Per Selasa ini, jumlah korbannya melonjak jadi 803 orang.

Dari jumlah itu, 115 orang dirawat inap, 54 masih menjalani perawatan, dan 61 lainnya sudah sembuh dan dipulangkan. Kronologinya, banyak siswa yang mengeluh mual, muntah, dan diare pada malam hari setelah makan. Esok harinya, Sabtu, mereka pun ramai-ramai absen sekolah. Dinas Kesehatan setempat sudah mengambil sampel makanan untuk diperiksa lebih lanjut.

"

Di tengah berita-berita itu, ada juga cerita yang menginspirasi. Menyambut Hari Tuli Nasional, kita akan berbincang dengan Winda Utami, seorang Juru Bahasa Isyarat yang namanya melejit belakangan ini.

Winda sempat viral saat menginterpretasikan lagu "Ojo Dibandingke" yang dinyanyikan Farel Prayoga. Ia kembali mencuri perhatian publik ketika menjadi penerjemah isyarat di acara HUT ke-78 RI, saat Putri Ariani tampil di Istana. Aksi ekspresifnya, bahkan ikut bergoyang, mendapat banyak pujian.

Profesi sebagai JBI ini punya peran krusial, lho. Mereka bukan cuma sekadar menerjemahkan kata, tapi menjembatani komunikasi antara teman-tuna rungu dengan masyarakat luas. Dibutuhkan kepekaan, pemahaman konteks, dan tentu saja etika profesional agar pesan tersampaikan dengan akurat dan penuh empati.

Nah, ingin tahu serba-serbi dunia penerjemahan isyarat? Simak obrolan menariknya nanti.

Ikuti terus ulasan mendalam berita-berita hangat seperti ini setiap Senin hingga Jumat, pukul 15.30 sampai 18.00 WIB. Siaran langsungnya bisa kamu saksikan di platform kami. Jangan lupa, di awal acara ada juga analisis pergerakan saham jelang penutupan IHSG. Sampaikan pendapatmu lewat kolom live chat yang tersedia, ya!

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar