"Dari 803 itu kan ada yang dirawat inap, 115 orang. Untuk hari ini, 61 orang sudah sembuh dan boleh pulang. Jadi yang masih dirawat tinggal 54 orang," jelasnya lebih lanjut.
Semua bermula pada Jumat malam. Usai mendapat pembagian makanan, puluhan siswa mulai mengeluh. Gejalanya beragam: mual, muntah-muntah, tak sedikit juga yang mengalami diare. Keesokan harinya, Sabtu, dampaknya benar-benar terlihat. Ruang kelas di Kecamatan Gubug banyak yang kosong.
"Saat dicek di lapangan, Sabtunya itu banyak yang enggak masuk sekolah," tutur Djatmiko, menggambarkan suasana saat itu.
Kasus ini masih terus ditelusuri. Pihak berwenang tampaknya masih menyelidiki penyebab pasti keracunan yang mendadak meluas ini. Sementara itu, upaya perawatan bagi korban yang masih terbaring terus dilakukan.
Artikel Terkait
Menteri LHK Serahkan SK Perhutanan Sosial untuk 411 KK di Lombok
Iran Serang Pangkalan AS di Bahrain sebagai Balasan atas Serangan ke Pabrik Desalinasi Qeshm
Pertamina Patra Niaga Berdayakan 695 Perempuan di 49 Titik
Trump Buka Pintu Negosiasi dengan Kuba, tapi Ancaman Militer Masih Menggantung