Di Balik Nama Panggung Roby Tremonti: Obsesi, Skandal, dan Dua Versi Kebenaran

- Rabu, 14 Januari 2026 | 17:00 WIB
Di Balik Nama Panggung Roby Tremonti: Obsesi, Skandal, dan Dua Versi Kebenaran

Nama Roby Tremonti masih terus jadi perbincangan hangat. Tapi belakangan, sorotan justru bergeser ke nama aslinya. Ada dugaan kuat, pergantian nama panggungnya itu terinspirasi oleh seorang idola.

Spekulasi ini muncul dari memoar viral Broken Strings karya Aurelie Moeremans. Dalam bukunya, Aurelie menceritakan sosok bernama 'Bobby' yang diduga banyak netizen adalah Roby Tremonti dengan detail yang mengerikan. Bobby digambarkan bukan hanya manipulatif, tapi juga melakukan beragam kekerasan: fisik, seksual, hingga finansial. Praktik grooming yang dilakukannya disebut meninggalkan luka dan trauma yang dalam.

Nah, yang menarik, Aurelie juga mengungkap satu kebiasaan Bobby. Pria ini disebut punya ketertarikan berlebihan pada band rock Amerika, Alter Bridge. Rasa kagumnya begitu besar, sampai-sampai dia memutuskan untuk mengganti nama panggungnya.

“Ia begitu terobsesi sampai mengubah ‘nama artis’-nya agar punya marga yang sama dengan salah satu anggotanya, menghapus nama Tionghoa-Indonesia yang ia miliki sejak lahir,” tulis Aurelie.

Nama belakang Tremonti sendiri jelas sangat asing di Indonesia. Itu adalah nama Mark Tremonti, gitaris utama Alter Bridge yang terkenal di dunia. Jadi, pilihan nama itu dianggap bukan kebetulan.

Beberapa waktu lalu, beredar dokumen pernikahan yang memuat nama Maximillian Kolbe Roby Sutanto dan Aurelie. Ini semakin memicu tanya. Apakah Sutanto adalah nama aslinya, dan 'Tremonti' benar-benar diambil dari nama gitaris idolanya? Hingga kini, Roby sendiri belum memberikan konfirmasi resmi. Semua masih sebatas dugaan dan tafsiran publik belaka.

Meski begitu, kemunculan narasi dari buku itu memberi warna baru. Alasan di balik perubahan namanya bukan lagi sekadar tebakan karena kemiripan, tapi punya latar belakang cerita personal tentang obsesi.

Di tengah ramainya pembicaraan ini, Roby Tremonti akhirnya angkat bicara. Dia mengklarifikasi hubungannya dengan Aurelie. Menurutnya, mereka pernah menikah secara sah pada 10 Oktober 2011. Saat itu, Aurelie berusia 18 tahun dan Roby 32 tahun.

"Untuk memperjelas, pernikahan Katolik itu apabila syarat-syarat terpenuhi, 18 tahun, meskipun orang tuanya tidak setuju, menurut gereja itu sah untuk menikah," kata Roby.

Klaim ini bertolak belakang dengan pengakuan Aurelie. Dalam memoarnya, dia menyebut pernikahan dengan Bobby tidak sah karena tidak memenuhi prosedur gereja Katolik. Gereja kemudian memberikan annulment, yang membatalkan pernikahan tersebut dan mengizinkannya menikah lagi.

Roby juga membantah semua tuduhan kekerasan, termasuk KDRT dan pemerkosaan. Dia mempertanyakan kenapa laporan tidak pernah dibuat ke pihak berwajib.

"Mengatakan pemerkosa dan penculikan, ya kan, itu harusnya kan lapor ke yang berwajib ya. Kenapa selalu digembar-gemborkan di media sosial tapi nggak lapor polisi? Kenapa?" ujarnya.

Menanggapi hal itu, Aurelie punya alasan sendiri. Dia menulis bahwa dirinya dan keluarga sempat ingin melapor, namun tidak mendapat dukungan bahkan dari kuasa hukumnya sendiri. Mereka dianggap tak punya bukti memadai karena kejadiannya tidak terekam. Ayah Aurelie bahkan pernah melaporkan ke KPAI, sayangnya tidak ada tindak lanjut yang berarti. Pada akhirnya, mereka memilih mundur.

Kisah ini masih menyisakan banyak pertanyaan. Dua pihak yang saling berseberangan cerita, dengan bukti dan narasi yang sama-sama diklaim benar. Publik hanya bisa menyimak, sambil menunggu ada titik terang lain yang muncul.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar