Menanggapi situasi, pemerintah Iran justru mengambil langkah lain. Televisi pemerintah melaporkan, tiga hari berkabung nasional diumumkan untuk anggota pasukan keamanan yang gugur dalam dua pekan terakhir.
Otoritas menyebut aksi protes sebagai "kerusuhan". Mereka memuji aparat yang tewas sebagai "martir" dalam sebuah "pertempuran perlawanan nasional Iran" melawan Amerika Serikat dan Israel. Teheran pun menuding rival geopolitiknyalah yang mengobarkan api protes dari luar.
Presiden Masoud Pezeshkian mengumumkan rencana pawai "aksi perlawanan nasional" yang dijadwalkan berlangsung Senin (12/01).
Ada Figur Pemimpin?
Nazenin Ansari, jurnalis Iran yang juga pemimpin redaksi Kayhan London, punya pandangan menarik. Menurutnya, demonstrasi kali ini punya perbedaan mendasar dari gelombang protes besar sebelumnya, seperti pada 2017, 2019, atau gerakan "Perempuan, Kehidupan, Kebebasan" tahun 2022.
"Aksi protes ini sebenarnya bukan hal baru, karena sudah dimulai sejak 2017," kata Ansari. "Tapi gerakannya sangat sekuler, tidak pakai narasi agama."
"Nah, yang beda sekarang adalah gerakan ini punya seorang pemimpin: Pangeran Reza Pahlavi," jelasnya.
Reza Pahlavi adalah putra shah terakhir Iran, Mohammad Reza Pahlavi, yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979. Sejak itu, dia hidup di pengasingan.
"Inilah yang membuat protes kali ini semakin menguat," papar Ansari. Dia melihat berbagai arus politik dalam oposisi mulai menunjukkan kerja sama, dengan figur Pahlavi sebagai titik temu.
Lalu, Masa Depan seperti Apa?
Kembali ke Daniela Sepheri, saat ditanya tentang harapan ke depan, jawabannya tegas: kedaulatan rakyat.
"Harapan saya rakyat Iran bisa mengubah masa depan negaranya sesuai kehendak mereka sendiri. Lewat pemilu yang bebas dan referendum," tegasnya.
Terkait isu runtuhnya rezim atau kembalinya monarki, Sepheri menyerahkan sepenuhnya pada rakyat Iran. "Itu harus mereka putuskan. Ada yang ingin shah kembali, ada yang tidak." Dia mencatat, kelompok minoritas etnis umumnya menolak ide kembalinya sistem monarki.
Reza Pahlavi sendiri sebelumnya telah menyatakan keinginannya untuk kembali ke Iran dan memainkan peran politik. Namun, jalan menuju sana masih panjang dan berliku. Iran adalah negara dengan keragaman etnis yang tinggi. Lebih dari 60% penduduknya Persia, sementara wilayah minoritas seperti Kurdi dan Baluch sering menjadi episentrum gejolak dalam setiap gelombang protes.
Masa depan negeri itu, sekali lagi, bergantung pada suara dan pilihan rakyatnya sendiri di tengah situasi yang masih sangat tidak pasti.
Artikel Terkait
Prabowo Canangkan 34 Proyek Sampah Jadi Listrik, Target Beroperasi Dua Tahun
Restorative Justice Diusulkan untuk Kasus Dugaan Palsukan Ijazah Jokowi
Kapolres Bogor Turun Langsung, Negosiasi Redakan Demo Tambang di Cigudeg
Blora Gelar Kendurian Desa, Dukung Program Pangan Nasional