Dengan adanya dua patokan ini, kemungkinan besar akan terjadi perbedaan lagi. Thobib mengakui hal ini. Tapi menurutnya, situasi seperti ini sebenarnya sudah biasa terjadi di Indonesia. Hanya saja, imbauan resmi tetap satu.
"Namun, kami tetap mengimbau agar publik dapat mengikuti keputusan pemerintah," tegasnya.
Meski begitu, Kemenag tak memaksa. Mereka tak menutup pintu bagi siapa pun yang mungkin mengikuti awal Ramadan yang berbeda. Syaratnya cuma satu: kerukunan harus dijaga.
"Jika memang hal tidak bisa dihindarkan, di tengah perbedaan, agar masyarakat tetap menjaga ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah (kebangsaan)," pungkas Thobib.
Intinya, perbedaan mungkin terjadi, tapi persatuan tidak boleh goyah. Itu pesan utamanya.
Artikel Terkait
Hujan Deras Lumpuhkan Transjakarta, Rute Ini Paling Parah
Waspada Banjir, Status Siaga di Dua Titik Ibu Kota Naik ke Level 3
JPO Sarinah Kembali Dibangun, Target Rampung Akhir Februari
Hujan Deras, Mobil Ringsek di KM 11 Tol Serpong Picu Macet Parah