Rambu Baru di CFD Bundaran HI: Solusi atau Sekadar Peringatan?

- Minggu, 11 Januari 2026 | 09:50 WIB
Rambu Baru di CFD Bundaran HI: Solusi atau Sekadar Peringatan?

Minggu pagi di Bundaran HI, suasana car free day terlihat sedikit berbeda. Di sisi selatan Monumen Selamat Datang, tepatnya sebelum Halte Tosari, sebuah rambu lalu lintas baru berdiri. Rambu biru itu bergambar jelas: sepeda dengan panah ke kanan, dan pejalan kaki dengan panah ke kiri. Tujuannya sederhana memisahkan arus pesepeda dan pejalan kaki agar tak lagi bersinggungan di jalur CFD.

Pantauan di lokasi menunjukkan, setelah rambu itu, deretan traffic cone berjajar rapi mengarah ke selatan, menuju Senayan. Ide pemisahan jalur ini sepertinya ingin dijalankan secara konsisten.

Menurut penjelasan dari rambu tersebut, pesepeda diarahkan untuk menggunakan satu jalur di sebelah kanan, yang bersebelahan dengan jalur Transjakarta. Sementara itu, pejalan kaki mendapat porsi tiga jalur di sisi kirinya. Pembagian yang terlihat jelas di atas kertas.

Namun begitu, bagaimana penerapannya di lapangan?

Buyung, seorang pesepeda yang kerap mangkal di CFD, mengaku baru pertama kali melihat rambu itu dipasang. "Bagus, paling nggak ngingetin orang-orang yang jalan atau yang lari," ujarnya.

Tapi dia punya catatan. "Karena kan rambunya cuma di sini, jadi kalau makin banyak makin bagus. Malah buat makin ngingetin bahwa emang sebelah kanan tuh buat sepeda. Karena kan kita yang naik sepeda kadang-kadang suka keganggu juga nih orang lari di sebelah kanan."

Buyung menambahkan, meski rambu sudah ada, pelanggaran masih kerap terjadi. Bahayanya, kata dia, justru datang dari pejalan kaki yang tiba-tiba menyebrang tanpa melihat sekeliling.

"Cuma yang paling bahaya tuh kalau orang ngejebrak gitu loh. Tiba-tiba orang lompat gitu kan. Kadang-kadang ada yang bawa anak kecil," keluhnya.

"Memang ngeri juga. Sudah beberapa kali saya hampir nabrak orang cuma karena nyeberang," ucap Buyung.

Pendapat serupa datang dari Ichsan, pesepeda lain. Menurutnya, ide rambu itu sendiri efektif dan membuat pesepeda jadi lebih tertib. Tapi masalahnya, banyak pejalan kaki yang masih seenaknya memakai jalur kanan.

"Kita kan penginnya sepedaan lancar. Kadang ada orang yang nggak terima kalau diklakson kring-kring gitu, ada aja itu," kata Ichsan.

Dia berharap pemasangan rambu dan traffic cone bisa diperbanyak sepanjang rute CFD. "Inginnya kita lancar, jadi harus lebih dibanyakin kali ya supaya orang juga sadar. Soalnya sekarang di sini ada rambu, di sana udah nggak ada," tuturnya.

Di sisi lain, respons dari pejalan kaki justru positif. Adit, salah seorang warga yang sedang berlari, mengaku merasa lebih aman dengan pemisahan jalur ini.

"Bagus ya ada itu, kadang was-was kalau di belakang ada sepeda, takut ketabrak atau kita tiba-tiba kesenggol. Apalagi kalau udah kring-kring pas di belakang kita, tadi sempat ngalamin juga kayak gitu," cerita Adit.

Baginya, rambu itu harus ditaati bersama. CFD, kata dia, adalah ruang untuk dinikmati semua orang.

"Kadang kan orang juga pengin menikmati CFD dengan ini ya, dengan sarananya sendiri gitu ya. Biar sama-sama menikmati juga. Kita sendiri yang mungkin paham ya, semua pengin ngerasain Jakarta, apalagi cuaca lagi bagus ini," pungkas Adit.

Jadi, rambu itu sudah berdiri. Niatnya baik: agar semua bisa beraktivitas dengan nyaman dan aman. Tinggal kesadaran bersama yang masih perlu dibangun, satu langkah dan satu kayuhan pedal demi satu.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar