Minggu pagi di Bundaran HI, suasana car free day terlihat sedikit berbeda. Di sisi selatan Monumen Selamat Datang, tepatnya sebelum Halte Tosari, sebuah rambu lalu lintas baru berdiri. Rambu biru itu bergambar jelas: sepeda dengan panah ke kanan, dan pejalan kaki dengan panah ke kiri. Tujuannya sederhana memisahkan arus pesepeda dan pejalan kaki agar tak lagi bersinggungan di jalur CFD.
Pantauan di lokasi menunjukkan, setelah rambu itu, deretan traffic cone berjajar rapi mengarah ke selatan, menuju Senayan. Ide pemisahan jalur ini sepertinya ingin dijalankan secara konsisten.
Menurut penjelasan dari rambu tersebut, pesepeda diarahkan untuk menggunakan satu jalur di sebelah kanan, yang bersebelahan dengan jalur Transjakarta. Sementara itu, pejalan kaki mendapat porsi tiga jalur di sisi kirinya. Pembagian yang terlihat jelas di atas kertas.
Namun begitu, bagaimana penerapannya di lapangan?
Buyung, seorang pesepeda yang kerap mangkal di CFD, mengaku baru pertama kali melihat rambu itu dipasang. "Bagus, paling nggak ngingetin orang-orang yang jalan atau yang lari," ujarnya.
Tapi dia punya catatan. "Karena kan rambunya cuma di sini, jadi kalau makin banyak makin bagus. Malah buat makin ngingetin bahwa emang sebelah kanan tuh buat sepeda. Karena kan kita yang naik sepeda kadang-kadang suka keganggu juga nih orang lari di sebelah kanan."
Buyung menambahkan, meski rambu sudah ada, pelanggaran masih kerap terjadi. Bahayanya, kata dia, justru datang dari pejalan kaki yang tiba-tiba menyebrang tanpa melihat sekeliling.
"Cuma yang paling bahaya tuh kalau orang ngejebrak gitu loh. Tiba-tiba orang lompat gitu kan. Kadang-kadang ada yang bawa anak kecil," keluhnya.
"Memang ngeri juga. Sudah beberapa kali saya hampir nabrak orang cuma karena nyeberang," ucap Buyung.
Artikel Terkait
WNA Diduga Ekshibisionis di Blok M Kabur, Beralasan Cuaca Panas Bikin Gatal
Motor Trail Menembus Medan Ekstrem, Bantuan Sampai ke Pelosok Aceh Tengah
Gelombang Bom Guncang SPBU Thailand Selatan, Empat Orang Terluka
Kemenag Tegaskan Awal Ramadan 2026 Tunggu Sidang Isbat, Bukan Kalender