Amir punya catatan penting. JPO nantinya harus ramah untuk semua orang, termasuk difabel. Fasilitas seperti lift atau eskalator jadi keharusan. Tapi, yang tak kalah penting adalah pengawasannya. "Harus bersih, aman. Jangan sampai malah jadi tempat orang buka lapak atau tunawisma. Jadi memang perlu dijaga," tegasnya.
Di sisi lain, Rosi (48) punya kenangan sendiri dengan JPO yang lama. Dulu, jembatan itu bikin dia merasa lebih nyaman. Sekarang, dengan kondisi jalan yang makin riuh, keinginan untuk punya JPO baru makin kuat. "Saya tuh ngeri kalau nyebrang di situ, meskipun udah ada lampunya tapi tetep motor itu ngebut," ucapnya sambil menggeleng.
Intinya, dukungan itu ada. Tapi di balik dukungan itu, terselip harapan-harapan konkret: desain yang menarik, akses yang inklusif, dan yang utama, pengelolaan yang berkelanjutan. Biar nggak cuma jadi proyek, tapi benar-benar jadi solusi.
Artikel Terkait
Semeru Muntahkan Awan Panas Sejauh 5 Kilometer, Status Tetap Siaga
Korban Dibawah Umur Ditemukan Berlumur Lumpur Usai Diduga Diperkosa Teman di Sekadau
Cinta 10 Tahun Berakhir Tragis, Rumah Mantan Kekasih Dibakar di Tulungagung
Gempa 4,9 SR Guncang Melonguane di Kedalaman 82 Kilometer