Venezuela punya cadangan minyak terbesar di dunia. Invasi akan mengacaukan produksi, menciptakan guncangan pasokan yang membuat krisis energi 2022 terlihat biasa saja. Harga minyak bisa melonjak di atas $200 per barel, memicu resesi global.
Produsen seperti OPEC yang dipimpin Rusia dan Arab Saudi akan menggunakan minyak sebagai senjata geopolitik, menolak menstabilkan pasar. Pasar komoditas lain ikut bergejolak karena proteksionisme merajalela.
Sistem keuangan global pun terpolarisasi. AS akan membekukan aset Venezuela dan menjatuhkan sanksi sekunder. Sebagai jawaban, Cina dan Rusia akan mempercepat adopsi alternatif untuk SWIFT, seperti yuan digital. Terciptalah ‘splinternet’ keuangan: dua sistem terpisah yang meningkatkan biaya dan ketidakefisienan. Status dolar AS sebagai mata uang cadangan utama akan terus terkikis.
Kerja sama di WTO runtuh. Blok-blok dagang akan membuat hambatannya sendiri, menggunakan kontrol ekspor dan subsidi sebagai senjata. Rantai pasok global terpecah permanen. Persaingan di teknologi kritis seperti AI dan semikonduktor berubah jadi perang dingin terbuka, dengan hampir tidak ada ruang untuk kolaborasi.
Lalu, Bagaimana dengan Tantangan Bersama Umat Manusia?
Dalam dunia ‘semua untuk diri sendiri’, kemampuan mengatasi masalah bersama pun lenyap. Kerja sama iklim global, yang sudah rapuh, akan runtuh. Pertemuan iklim hanya jadi ajang saling menyalahkan. Pendanaan iklim dari Utara ke Selatan mengering. Komitmen net-zero ditinggalkan demi mengamankan akses energi apa pun, termasuk batubara. Risiko baru muncul: upaya geoengineering sepihak oleh kekuatan besar.
Begitu pula dengan kesehatan global. Kepercayaan pada sistem peringatan dini WHO hancur. Setiap pandemi baru akan dibarengi disinformasi dan ‘diplomasi vaksin’ yang agresif, di mana vaksin dibagi berdasarkan loyalitas, bukan kebutuhan.
Pelajaran pahit yang akan ditarik banyak negara menengah dari Indonesia sampai Arab Saudi adalah bahwa di dunia tanpa aturan, kekuatan nuklir jadi satu-satunya jaminan keamanan. Ambisi proliferasi akan mendapat momentum. Perang siber akan merajalela, menarget infrastruktur kritis sebagai hal yang biasa.
Penutup: Mengelola Kekacauan yang Tak Terhindarkan
Jadi, invasi AS ke Venezuela di awal 2026, dalam skenario ini, bukanlah awal dari ketidakpastian. Ia adalah titik puncaknya. Peristiwa yang mengkristalkan dan mempercepat semua retakan yang sudah ada. Dunia pasca-peristiwa itu akan jadi tempat yang lebih miskin, lebih berbahaya, dan enggan bekerja sama.
Prediktabilitas dan norma bersama jadi barang langka. Kedaulatan hanya jadi formalitas yang mudah dimanipulasi. Hak asasi manusia terjebak dalam pertarungan naratif tanpa henti.
Masa depan akan ditandai persaingan multipolar yang intens di segala bidang: militer, ekonomi, teknologi. Risiko konflik langsung antar kekuatan besar meningkat, karena saluran komunikasi dan diplomasi mandek.
Ironisnya, justru di lingkungan seperti ini, saling ketergantungan kita menghadapi ancaman eksistensial seperti perubahan iklim dan pandemi tetap ada. Itulah tantangan terberat para pemimpin ke depan: bagaimana menemukan titik temu, membangun jembatan interaksi yang rapuh, untuk mencegah ketidakpastian global berubah menjadi bencana global yang sebenarnya.
Bisa jadi, masa depan sistem internasional kita bukan tentang mencari tatanan baru. Tapi tentang bagaimana mengelola kekacauan global yang nampaknya sudah tak terhindarkan lagi.
Hendra Manurung. Dosen Prodi Magister Diplomasi Pertahanan, Fakultas Strategi Pertahanan, Universitas Pertahanan Republik Indonesia (UNHAN RI).
Artikel Terkait
Drone Misterius di Perbatasan Korea: Klaim, Bantahan, dan Ancaman Diplomatik
KPK Beberkan Modus Korupsi Kuota Haji Tambahan, Mantan Menag Yaqut Ditahan
Suap Pajak Rp75 Miliar, DJP Minta Maaf ke Publik
Dua Maling Motor Tembak Warga di Palmerah Akhirnya Diciduk Polisi