Gen Halal Championship 2025: Finalis Non-Muslim Buktikan Halal Jadi Standar Universal

- Minggu, 11 Januari 2026 | 14:25 WIB
Gen Halal Championship 2025: Finalis Non-Muslim Buktikan Halal Jadi Standar Universal
Direktur Utama LPPOM Muti Arintawati.

Bogor – Setelah melalui seleksi yang ketat, 45 pelajar SMA/MA akhirnya bertemu di Babak Grand Final "Gen Halal Championship 2025". Mereka adalah yang terpilih dari hampir 1.500 pendaftar yang berasal dari berbagai penjuru Indonesia. Ajang yang digelar LPH LPPOM MUI ini pun memasuki tahap penentuan.

Para finalis itu mewakili 32 sekolah berbeda, tersebar di 20 kota dari 13 provinsi. Provinsi Riau unggul dengan menyumbang 14 peserta. Sebelum malam puncak penghargaan digelar, mereka lebih dulu menjalani bootcamp intensif pada 9-11 Januari 2026 di Camp Hulu Cai, Bogor.

Menurut Direktur Utama LPPOM, Muti Arintawati, kompetisi ini adalah upaya konkret menanamkan literasi halal sejak dini. Namun, ini bukanlah yang pertama kalinya.

“Sebenarnya LPPOM pernah menggelar Gen Halal Championship sebelumnya, lalu sempat vakum,” ujar Muti dalam sambutannya di Ciawi, Bogor, Sabtu (10/1/2026) malam.

“Tahun 2025 kami hidupkan lagi dengan melakukan rebranding dan beberapa pembaruan,” tambahnya.

Ia menekankan, urgensi kegiatan ini muncul karena Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar, di mana halal adalah sebuah kewajiban. Sayangnya, pemahaman masyarakat tentang halal masih jauh dari harapan.

Di satu sisi, konsumen kerap tak punya ilmu yang memadai. Di sisi lain, pelaku usaha pun kurang terdorong untuk mensertifikasi produknya. Padahal, kedua hal ini saling terkait.

“Dorongan dari pelaku usaha untuk mempertahankan sertifikasi halal tidak akan muncul kalau tidak ada tuntutan dari masyarakat. Dan masyarakat tidak akan menuntut kalau mereka tidak tahu,” tegas Muti.

Rendahnya pengetahuan ini, ungkapnya, bisa langsung mempengaruhi ekosistem industri halal. Edukasi jadi kunci utamanya. Karena itulah, Gen Halal Championship sengaja menyasar pelajar mereka adalah agen perubahan di masa depan.

“Kami sadar betul, literasi halal harus dibina dari generasi muda. Mudah-mudahan kegiatan ini bisa terus berlanjut di tahun-tahun mendatang,” harapnya.

Yang menarik, antusiasme tahun ini menunjukkan bahwa isu halal rupanya tak lagi eksklusif. Salah satu buktinya? Ada peserta non-Muslim yang berhasil lolos hingga babak grand final.

“Judulnya Gen Halal Championship, tapi yang mendaftar ternyata beragam. Bahkan ada peserta non-Muslim yang ikut sampai ke grand final,” cerita Muti.

KH M. Asrorun Niam Sholeh, Ketua MUI Bidang Fatwa.

Fenomena ini, menurutnya, membuktikan bahwa standar halal mulai dipandang sebagai jaminan keamanan dan kualitas yang universal. Konsumen non-Muslim pun percaya bahwa produk halal itu baik, karena prinsipnya sejalan dengan sesuatu yang thayyib (baik).

Pandangan senada disampaikan Ketua MUI Bidang Fatwa, KH M Asrorun Niam Sholeh. Menurutnya, halal bukanlah monopoli umat Islam semata.

“Seruan dalam Al-Qur'an itu ‘Wahai manusia, makanlah yang halal dan baik dari apa yang ada di bumi’. Yang diseru adalah seluruh manusia, bukan hanya orang beriman,” jelas Kiai Niam.

Guru Besar Ilmu Fiqh UIN Jakarta itu melanjutkan, siapa pun yang mengonsumsi makanan halal dan thayyib akan mendapatkan manfaatnya. Sebaliknya, jika seorang Muslim memakan yang haram, konsekuensinya bisa berat mulai dari dosa, kesehatan yang terganggu, hingga dampak sosial seperti stunting.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar