Poros Riyadh-Abu Dhabi Retak di Medan Perang Yaman

- Kamis, 08 Januari 2026 | 09:45 WIB
Poros Riyadh-Abu Dhabi Retak di Medan Perang Yaman

Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman, Rashad al-Alimi, ikut mengamplifikasi undangan itu. Dia menekankan pentingnya "keadilan" bagi perjuangan selatan, tapi menolak solusi sepihak.

Namun, ajakan berdialog ini terasa paradoks. Bagaimana mungkin bicara damai sementara serangan udara masih berlangsung? Bagi STC, ini bisa dilihat sebagai taktik Saudi untuk melemahkan posisi tawar mereka setelah keberhasilan militer di lapangan.

Langkah Berani STC: Deklarasi Kemerdekaan

STC tak tinggal diam. Di hari yang sama dengan serangan udara pertama, mereka malah melangkah lebih jauh. Aidarous al-Zubaidi, pemimpin STC, secara resmi mengumumkan konstitusi untuk sebuah negara merdeka: Negara Arab Selatan.

Dokumen 30 pasal itu mengklaim wilayah bekas Yaman Selatan dan akan berlaku selama dua tahun sebelum referendum digelar. Ini langkah paling berani mereka menuju pemisahan diri.

Pemerintah Yaman di Sana'a tentu saja menolak mentah-mentah. Tapi deklarasi ini telah mengubah peta politik. Ambisi STC kini tak lagi terselubung, dan itu mempersulit upaya rekonsiliasi di kubu anti-Houthi.

Retaknya hubungan Saudi-UEA sebenarnya sudah lama mengendap. Sejak intervensi 2015, strategi mereka berbeda. Saudi fokus pada serangan udara dan menjaga keutuhan Yaman. Sementara UEA, dengan pendekatan yang lebih pragmatis, membangun jaringan milisi lokal di selatan, termasuk mendukung STC. Perebutan Aden oleh STC pada 2018 adalah titik awal perbedaan itu menjadi terang-terangan.

Sekarang, dengan STC menguasai wilayah luas dan mendeklarasikan negara sendiri, perbedaan itu meledak jadi konfrontasi. Bagi Saudi, Yaman yang terpecah adalah mimpi buruk keamanan. Bagi UEA, pengaruh di pelabuhan selatan Yaman adalah aset strategis.

Dinamika ini mengingatkan pada teori "Security Dilemma" dari Robert Jervis. Intinya, dalam dunia yang anarkis, tindakan yang dimaksudkan untuk pertahanan diri sering dilihat sebagai ancaman oleh pihak lain. Penguatan militer STC di Hadramaut yang bagi mereka dan UEA adalah langkah defensif dilihat Saudi sebagai ancaman langsung. Respons keras Saudi kemudian dianggap STC sebagai agresi, yang membenarkan upaya pemisahan diri mereka lebih jauh. Ini spiral yang saling memicu, dan sulit dihentikan.

Apa Artinya Bagi Masa Depan?

Implikasinya serius. Pertama, konflik internal di kubu anti-Houthi jelas melemahkan mereka secara keseluruhan. Bisa jadi malah membuka pintu bagi aktor regional lain untuk ikut campur. Kedua, deklarasi kemerdekaan STC berpotensi memicu perang saudara baru, terpisah dari konflik dengan Houthi.

Peristiwa di Hadramaut ini lebih dari sekadar bentrokan lokal. Ini adalah cermin dari kegagalan membangun konsensus politik di Yaman. Aliansi yang dibangun di atas kepentingan jangka pendek, akhirnya runtuh ketika ambisi dan rasa saling curiga mengambil alih.

Seperti yang diingatkan Jervis, tanpa kepercayaan dan komunikasi yang baik, bahkan sekutu terdekat pun bisa terjebak dalam spiral konflik yang mereka ciptakan sendiri. Spiral di Yaman ini tak hanya mengancam negara itu, tapi juga stabilitas Teluk secara keseluruhan. Situasinya rapuh, dan jalan keluar tampaknya masih sangat jauh.

Aji Cahyono. Master of Arts (MA) Bidang Kajian Timur Tengah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; Founder Indonesian Coexistence.


Halaman:

Komentar