Bom di Mukalla: Saat Persaingan Saudi-Emirat Meledak Jadi Konflik Terbuka

- Rabu, 07 Januari 2026 | 18:50 WIB
Bom di Mukalla: Saat Persaingan Saudi-Emirat Meledak Jadi Konflik Terbuka

Lihat saja di Sudan. Saudi berperan sebagai mediator dan mendukung pemerintah yang diakui internasional. Sementara UEA dituduh mendukung Pasukan Dukungan Cepat (RSF), kelompok paramiliter yang sedang berperang melawan pemerintah itu.

Ketika Israel mengakui kemerdekaan Somaliland, mayoritas negara Arab termasuk Saudi mengecam. UEA? Diam. Mereka punya hubungan erat dengan Somaliland, bahkan dikabarkan membangun pangkalan militer di Berbera, Teluk Aden.

Belum lagi soal normalisasi hubungan dengan Israel. UEA sudah melakukannya. Saudi bersikeras tak akan mengikuti sebelum isu Palestina tuntas.

Di Suriah, UEA juga dituduh mendorong aspirasi separatis minoritas Druze yang justru bertentangan dengan pemerintahan Suriah yang didukung Riyadh.

Perbedaan-perbedaan ini makin sulit dirapikan di meja diplomasi. Tak heran jika beberapa pengamat mulai menyebutnya sebagai embrio "Perang Dingin" di Timur Tengah.

Lalu, Apa yang Akan Terjadi?

Pasca-insiden Mukalla, warganet dari kedua negara saling serang di media sosial. Seorang analis Saudi menuduh UEA "mengoyak relasi". Yang lain menyamakan Emirat seperti adik kecil yang bandel. Dari kubu Emirat, ada yang balik menyindir Saudi sebagai kakak yang sok kuasa.

Tapi para pengamat meragukan konflik ini akan melampaui perang kata-kata.

"Saya kira Saudi bergerak tegas di Yaman untuk mengamankan kepentingannya. Ini mungkin pertama kalinya UEA menghadapi dampak serius atas dukungannya pada kelompok non-negara," kata Coates Ulrichsen.

Meski begitu, perpecahan permanen tampaknya bukan opsi. Yang lebih mungkin, kedua negara akan semakin mengeraskan pendirian mereka masing-masing.

Meski menarik pasukan dari Yaman, UEA takkan benar-benar mundur, menurut Krieg. "Peristiwa ini akan membuat mereka memperketat proses, mengurangi visibilitas, dan mengelola dampak. Tapi logika dasarnya tetap utuh."

Itu polanya, katanya. "Saat menghadapi perlawanan, UEA biasanya cuma ganti bungkus, bukan isinya."

Siapa yang Akan Menang?

Krieg mengakui, UEA sudah mengumpulkan banyak keuntungan dari strategi ini. "Tapi penentunya adalah biaya reputasi dan politik."

Ambil contoh Sudan. RSF, kelompok yang didukung Emirat, dituduh melakukan pembantaian dan pelanggaran HAM berat. Dukungan Abu Dhabi pun menuai kecaman internasional yang kian keras.

Sudan menjadi ujian berat bagi "poros separatis" UEA.

"Harga untuk mempertahankan ekosistem berbasis RSF makin mahal. Ruang untuk menyangkal menyempit. Dampak balik datang dari berbagai arah, termasuk dari dalam Teluk sendiri," papar Krieg.

Pada akhirnya, pemenangnya bukan yang paling banyak pengaruh, tapi yang bisa mengubah pengaruh itu menjadi legitimasi dan stabilitas yang bertahan lama.

Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Inggris.
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid


Halaman:

Komentar