Prabowo Umumkan Swasembada Pangan, tapi Hatinya Masih Gelisah

- Rabu, 07 Januari 2026 | 13:35 WIB
Prabowo Umumkan Swasembada Pangan, tapi Hatinya Masih Gelisah

“Dari dulu saya mengerti hal ini tapi saya tidak mengerti seberapa banyak kebocoran, dari tahun ke tahun sebelum saya menjadi presiden, saya berjuang sebagai ketua umum HKTI, berjuang sebagai ketua umum sebuah partai, kenapa? karena saya melihat ada kejanggalan di bangsa kita,” tuturnya.

Baginya, logika sederhana saja sudah tak masuk akal. Bagaimana mungkin negara dengan kekayaan melimpah selama puluhan tahun, masih menyisakan begitu banyak rakyat yang hidup dalam kemiskinan?

“Saya melihat sudah berapa puluh tahun negara yang begini kaya, rakyatnya masih banyak yang miskin,” ucap Prabowo.

Nuraninya, tegas dia, tak bisa menerima kenyataan pahit itu. Sebuah bangsa yang berjuang ratusan tahun untuk merdeka, ternyata belum mampu memastikan kekayaannya dinikmati oleh sebagian besar warganya. Dan di antara semua itu, ketergantungan impor pangan adalah hal yang paling tak bisa diterima akal sehatnya.

“Saya tidak dapat menerima di akal sehat saya dan di hati saya, bagaimana negara yang begini makmur yang berjuang ratusan tahun untuk mereka, tetapi kekayaannya kurang dinikmati oleh sebagian besar rakyat Indonesia,” tegasnya.

“Terutama yang tidak masuk di akal saya, bagaimana bisa negara yang begini besar, negara yang diberi karunia oleh Yang Maha Kuasa, bumi yang luas, kaya dan tanah yang subur tetapi kita bergantung pada bangsa lain untuk pangan kita, kita impor pangan, tidak masuk di akal saya,” lanjut Presiden.

Pengumuman swasembada di Karawang itu, dengan demikian, bukan sekadar pernyataan biasa. Ia lebih mirip sebuah deklarasi sekaligus pengakuan tentang sebuah cita-cita yang tercapai, tetapi diiringi kesadaran akan pekerjaan rumah yang masih sangat banyak dan berat.


Halaman:

Komentar