SETIAP SEJARAH PERJUANGAN SELALU ADA PENGKHIANATNYA, BERFOKUSLAH PADA TUJUAN, BERKHIDMADLAH KEPADA RAKYAT & NIATKANLAH HANYA UNTUK MERAIH RIDLO-NYA
Oleh : Ahmad Khozinudin, S.H.
Bayangkan, saat Allah SWT masih menutupi aib kita. Lalu, ada juga teman-teman yang tahu tapi ikut diam, ikut menjaga rahasia itu. Itu bukan cuma satu, tapi dua keberuntungan sekaligus, lho. Pertama, karena masih dapat perlindungan dari-Nya. Kedua, karena dikelilingi orang yang bisa dipercaya.
Tapi hidup ini memang penuh kejutan. Kadang, kita sendiri yang berusaha menutupi aib seorang kawan. Kita enggak mau hal itu terbuka. Eh, malah dia sendiri yang membongkarnya. Memamerkan sesuatu yang mestinya disimpan rapat-rapat.
Menurut sejumlah saksi, situasi seperti itu justru memberi kita dua hikmah. Kita selamat dari dampak buruk yang mungkin ditimbulkan oleh kelakuannya sendiri. Dan yang kedua, kita jadi tahu siapa sebenarnya pejuang sejati, dan mana yang hanya berpura-pura.
Ibaratnya seperti kendaraan yang sarat muatan. Kehadiran pengkhianat itu tidak menambah manfaat apa-apa. Mereka cuma beban tambahan saja. Jadi, ketika mereka memutuskan untuk turun atau keluar dari kendaraan itu, justru jadi lebih ringan. Laju kendaraan malah bertambah cepat, dan tujuan pun bisa dicapai lebih cepat.
Nah, akhir-akhir ini ramai sekali perbincangan soal seorang aktivis yang selama ini vokal menentang isu ijazah palsu. Kabarnya, dia mendatangi kediaman Jokowi. Banyak yang bertanya-tanya, kok bisa?
Ya, begitulah dinamika. Hal-hal semacam ini sebenarnya biasa saja, sih. Tak perlu dianggap sebagai keanehan yang luar biasa. Dalam setiap pergerakan, selalu ada yang lurus dan yang bengkok. Ada yang tegak pendiriannya, ada yang lemas. Ada pemberani, tak sedikit pula yang pengecut.
Dan, memang selalu begitu: ada pejuang, ada pula pecundang.
Justru, momen seperti ini harusnya jadi bahan instropeksi yang berharga. Saatnya bermuhasabah, meluruskan niat. Berjuang itu seharusnya hanya karena Allah, titik. Bukan untuk cari pujian, harta, jabatan, atau gelar pahlawan. Fokus kita harusnya satu: bagaimana bisa lebih berkhidmat kepada rakyat.
Jadi, jalan saja terus. Fokus sampaikan kebenaran dan koreksi yang salah. Maju terus ke depan, jangan terlalu sibuk memandang kanan-kiri atau mendengarkan omongan yang justru bikin bising.
Pada akhirnya, perjuangan ini adalah urusan kita sendiri dengan Allah SWT nanti. Saat berhadapan dengan-Nya, yang dihisab adalah amal kita sendiri, bukan amal orang lain.
Kita tak butuh berbagai pembenaran dan apologi. Setiap pengkhianat pasti punya segudang alasan untuk tetap terlihat sebagai pejuang.
Yang perlu kita siapkan cuma satu: hujah kita kelak di hadapan Allah SWT.
Jadi, tetap semangat. Abaikan saja mereka yang memilih menyeberang atau keluar barisan. Perjuangan harus terus dilanjutkan.
Lawan terus praktik ijazah palsu yang sudah mengkooptasi negeri dan jelas-jelas menzalimi rakyat. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung!
Jum'at, 9 Januari 2026
Artikel Terkait
Salurkan 88 Ekor Sapi Kurban, Anggota DPR Kawendra Lukistian Wujudkan Arahan Presiden Prabowo di Jember dan Lumajang
Pemerintah Respons Anjloknya Harga TBS Sawit, Buka Masa Transisi Kebijakan Ekspor Satu Pintu hingga Agustus 2026
KPK Periksa Enam Saksi Terkait Dugaan Korupsi Dana Hibah Pokmas Jatim yang Seret Wakil Ketua DPRD
Como 1907 Cetak Sejarah, Lolos ke Liga Champions untuk Pertama Kalinya dalam 119 Tahun