Ekonomi Biru Buktikan Hasil: Produksi dan Ekspor Perikanan Naik, Konservasi Laut Meluas

- Rabu, 07 Januari 2026 | 12:15 WIB
Ekonomi Biru Buktikan Hasil: Produksi dan Ekspor Perikanan Naik, Konservasi Laut Meluas

Lalu ada penataan ruang laut. Melalui mekanisme KKPRL, pemanfaatan ruang diatur agar tertib. Menariknya, keteraturan ini justru mendatangkan nilai ekonomi.

Hingga akhir 2025, penerimaan negara bukan pajak dari sektor ini mencapai sekitar Rp775 miliar melampaui target. Jadi, aturan yang jelas ternyata malah mendongkrak pendapatan.

Komitmen pada kelestarian juga tak main-main. Sepanjang 2025, luas kawasan konservasi laut bertambah 1,09 juta hektare, sehingga totalnya mencapai 30,9 juta hektare. Lebih dari 19 juta hektare di antaranya sudah dikelola secara efektif.

Konservasi kini tidak dipandang sebagai halangan. Ia justru jadi fondasi untuk perikanan berkelanjutan, melindungi stok ikan, dan mengembangkan potensi karbon biru dari ekosistem mangrove, lamun, dan terumbu karang.

Berdampak Langsung

Lantas, apakah semua ini dirasakan oleh pelaku utamanya? Tampaknya iya. Nilai Tukar Nelayan dari Januari hingga November 2025 konsisten di atas angka 100, dan berada di 104,94 pada November.

Nilai Tukar Pembudidaya Ikan juga menunjukkan tren penguatan. Artinya, pertumbuhan sektor ini mulai menyentuh kantong nelayan dan pembudidaya di tingkat akar rumput.

Untuk mengikat semua capaian ini, pembangunan SDM menjadi kunci. Ribuan anak pelaku utama mengenyam pendidikan vokasi dengan serapan kerja yang tinggi. Puluhan ribu lainnya mendapat pelatihan dan sertifikasi kompetensi.

Dukungan pembiayaan juga mengalir. Penyaluran KUR untuk sektor ini mencapai Rp5,76 triliun, yang dinikmati oleh lebih dari 111 ribu pelaku usaha.

Jadi, kalau dilihat secara keseluruhan, kinerja sektor kelautan dan perikanan di 2025 ini seperti puzzle yang saling menyambung. Produksi, ekspor, tata kelola, konservasi, SDM, dan pembiayaan saling menguatkan.

Inilah wajah Ekonomi Biru yang sedang diwujudkan: pertumbuhan yang dikelola dengan baik, dan keberlanjutan yang punya nilai ekonomi nyata.

Ke depan, tantangannya tentu masih ada. Fokusnya bukan lagi sekadar mengejar tonase produksi, tapi bagaimana mempercepat hilirisasi dan membuka pasar ekspor dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Indonesia harus bergerak dari pengekspor bahan mentah menjadi produsen produk olahan yang kompetitif. Dengan laut yang tertata, ekosistem yang terjaga, dan pelaku usaha yang makin maju, sektor ini punya modal kuat untuk jadi penggerak ekonomi nasional yang berkelanjutan.

Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Komunikasi Publik,
Doni Ismanto Darwin


Halaman:

Komentar