Pada Sabtu (3/1) waktu setempat, suasana di Caracas tiba-tiba berubah. Ibu kota Venezuela itu disergap oleh operasi militer yang sangat rahasia. Tujuannya jelas: menangkap Presiden Nicolas Maduro. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, baru-baru ini membuka suara soal detail operasi itu.
Menurutnya, hampir 200 tentara Amerika diterjunkan ke jantung kota. Mereka berhasil menangkap Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, tanpa ada korban jiwa dari pihak AS sama sekali.
"Hampir 200 tentara Amerika terbaik kita diterjunkan ke pusat kota Caracas... dan menangkap seorang individu yang didakwa dan diburu oleh otoritas kehakiman Amerika, untuk mendukung penegakan hukum, tanpa satu pun warga Amerika yang tewas,"
Begitu penegasan Hegseth dalam pidatonya di hadapan pelaut dan pekerja galangan kapal di Virginia, Senin (5/1) lalu. Pernyataan resmi ini, seperti dilansir AFP, baru keluar Selasa kemarin.
Ini untuk pertama kalinya pejabat Washington memberi angka pasti soal skala serangan di Caracas. Operasi yang menggemparkan dunia itu ternyata melibatkan helikopter tempur dan lebih dari 150 pesawat militer dengan berbagai peran, termasuk untuk menyerang posisi pertahanan Venezuela.
Penangkapan ini sekaligus mengakhiri 12 tahun pemerintahan Maduro yang oleh banyak pihak dinilai kian otoriter. Pemerintah AS sendiri sudah lama memburunya. Tuduhannya serius: menjalankan kartel narkoba. Imbalan penangkapannya pun tak main-main, mencapai US$ 50 juta atau sekitar Rp 838 miliar.
Jadi, begitulah kenyataannya. Sebuah operasi besar, dengan persiapan matang, akhirnya berhasil menjungkalkan seorang pemimpin yang telah lama bertahan.
Artikel Terkait
SBY Soroti Pentingnya Transformasi Strategi Pertahanan ke Kekuatan Udara
KIP Putuskan Hasil TWK 57 Mantan Pegawai KPK Harus Dibuka
Remaja 16 Tahun Klaim Sebagai Anak Kandung Enji Baskoro, Minta Tanggung Jawab
SBY Tegaskan Dunia Kini Masuki Era Multipolar, AS Tak Lagi Lone Ranger