Suasana di Venezuela masih tebak usai serangan Amerika dan penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Kabar terbaru, ada 37 warga negara Indonesia yang tercatat berada di sana. Menanggapi situasi ini, KBRI di Caracas dikabarkan sudah menyiapkan skenario darurat untuk mengamankan mereka.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Vahd Nabyl, mengonfirmasi hal itu. "KBRI Caracas terus memantau kondisi dan berkomunikasi dengan para WNI di sana," ujarnya, Selasa lalu.
"Mereka juga telah membuat contingency plan atau rencana darurat," tambah Vahd.
Di sisi lain, pemerintah Indonesia sudah angkat bicara soal konflik ini. Intinya, Jakarta mendorong semua pihak untuk menahan diri. Dialog dan penghormatan terhadap hukum internasional harus jadi prioritas.
"Kami meminta semua pihak mengedepankan dialog," tegas Vahd menegaskan sikap resmi pemerintah.
Operasi besar-besaran AS yang berujung pada penangkapan Maduro Sabtu dini hari itu, bukanlah aksi spontan. Ini puncak dari tekanan berbulan-bulan pemerintahan Trump. Maduro yang dituding AS sebagai pemimpin tidak sah, bersama istrinya Cilia Flores, kini sudah dibawa ke Amerika.
Presiden Trump sendiri punya segudang tuduhan. Ia mendesak Maduro lengser dan menuduhnya terlibat dengan kartel narkoba. Menurut Trump, Maduro dan jaringan narkobalah yang bertanggung jawab atas ribuan kematian warga AS akibat obat-obatan terlarang.
Sejak September tahun lalu, operasi militer AS di kawasan itu memang semakin keras. Lebih dari 100 orang tewas dalam puluhan serangan terhadap kapal-kapal yang diduga menyelundupkan narkoba dari Venezuela. Tapi aksi ofensif ini menuai kritik. Banyak pengamat hukum bilang, langkah AS kemungkinan melanggar aturan, baik nasional mereka sendiri maupun hukum internasional.
Artikel Terkait
Jadwal Salat Bandung Rabu 10 Juni 2026: Imsak Pukul 04.26, Subuh 04.36, dan Isya 18.58 WIB
Polisi Maroko Tangkap 11 Tersangka Jaringan Narkoba dan Pencucian Uang Lintas Negara
Studi: Piala Dunia 2026 Berpotensi Jadi Edisi Paling Boros Karbon Akibat Penerbangan Massal
Marapthon Dinilai Ubah Cara Publik Konsumsi Media Digital, Pengamat Soroti Pergeseran ke Konten Partisipatif