"Negara harus mengikuti jalur konstitusionalnya," sambungnya.
Penangkapan Maduro ini bukanlah peristiwa yang muncul tiba-tiba. Ia adalah puncak dari tekanan berbulan-bulan yang digencarkan pemerintahan Trump. Operasi besar-besaran AS ke berbagai titik di Venezuela itu pun langsung menuai reaksi. Banyak pemimpin dunia yang menyuarakan kecaman.
Kronologinya dimulai pada Sabtu dini hari, tanggal 3 Januari. Serangan pasukan AS mendahului penangkapan. Pemerintah AS sendiri selama ini menganggap Maduro sebagai pemimpin yang tidak sah. Setelah berhasil diamankan, Maduro dan istrinya, Cilia Flores, langsung dibawa ke wilayah Amerika Serikat.
Donald Trump punya sejarah panjang permusuhan dengan Maduro. Ia kerap mendesak sang presiden untuk menyerahkan kekuasaan. Tuduhan utamanya berat: Maduro dituding mendukung kartel narkoba. Trump bahkan menyatakan bahwa Maduro dan jaringan narkobalah yang bertanggung jawab atas ribuan kematian warga AS akibat obat-obatan terlarang.
Konflik ini sebenarnya sudah meluas jauh sebelum penangkapan terjadi. Sejak September 2025, operasi militer AS di perairan sekitar Venezuela sudah berlangsung intens. Lebih dari 100 orang tewas dalam setidaknya 30 serangan terhadap kapal-kapal yang dicurigai menyelundupkan narkoba. Aksi-aksi ofensif di Karibia dan Pasifik ini, menurut sejumlah pengamat hukum, sangat mungkin telah melangkahi batas-batas hukum nasional maupun internasional. Situasinya memang rumit, dan konsekuensinya masih terus beruntun.
Artikel Terkait
Prabowo Umumkan Swasembada Pangan di Tengah Hamparan Padi Menguning Karawang
KJP Plus Tahap Kedua Cair, Siswa Jakarta Bisa Sekolah Sambil Jalan-Jalan
Pembongkaran Monorel Jakarta Digelar Malam Hari, Jalan Tetap Dibuka
Tiga Pria Dibekuk Polisi Usai Bobol Delapan Gardu Listrik, Rugikan Negara Rp 220 Juta