Harga Emas Melambung, Pedagang di Lapangan Hadapi Dua Sisi Berbeda

- Selasa, 06 Januari 2026 | 09:30 WIB
Harga Emas Melambung, Pedagang di Lapangan Hadapi Dua Sisi Berbeda

Lonjakan harga emas belakangan ini ternyata tak cuma jadi berita di layar kaca. Di lapangan, tepatnya di gerai-gerai ritel, geliatnya benar-benar terasa. Pedagang pun ikut merasakan imbasnya, meski dengan cerita yang sedikit berbeda.

Ambil contoh harga emas Antam. Pada Selasa (6/1) kemarin, harganya melesat naik Rp 34.000 per gram. Angkanya mencapai Rp 2.549.000. Sementara itu, harga buyback-nya berada di posisi Rp 2.405.000 per gram.

Kondisi serupa terlihat di Galeri24. Di sana, harga jualnya naik Rp 34 ribu menjadi Rp 2.556.000 per gram. Untuk harga beli kembalinya, tercatat Rp 2.396.000.

Ridwan, seorang pedagang berusia 38 tahun di Cikini Gold Center, mengaku merasakan langsung efek kenaikan ini. Menurutnya, belakangan ini lebih banyak orang yang memburu emas batangan ketimbang yang mau menjual.

“Harganya naik, biasanya orang yang nunggu beli itu wah lihat harga makin, mau enggak mau mereka beli,” ujar Ridwan.

Ia menduga sentimen geopolitik global jadi pemicunya. Tapi di balik tingginya permintaan, ada masalah lain yang bikin pusing: stok. Ridwan mengeluh kesulitan mendapatkan pasokan emas sejak pertengahan Desember.

“Karena banyak pedagang (emas) yang libur Nataru, belum semua jualan, karena pengaruh juga, pangsa pasar itu kan berputarnya sesama pedagang itu,” ceritanya.

Keterbatasan stok ini, ditambah sulitnya beli langsung di Antam, akhirnya mendongkrak harga jualnya di pasaran. Saat harga acuan Antam Rp 2.515.000 per gram, Ridwan menjualnya hingga Rp 2.880.000. Selisih yang cukup signifikan.

“Kenapa? satu ketersediaan barang, satu memang stok di Antamnya (terbatas) kalau mau beli sendiri di Antam agak susah, harus antre, dan barangnya terbatas. Makannya harga di pasaran lebih tinggi,” jelasnya.

Dari pengamatannya, pembeli di tokonya cukup beragam, meski didominasi mereka yang berusia 30 tahun ke atas. Kelompok ini, katanya, sudah lebih melek investasi dan paham prospek jangka panjang logam mulia.

Namun begitu, cerita di lapangan tak seragam. Di toko sebelah, tepatnya di Anugerah Berlian, Daniel justru merasakan suasana yang berbeda. Tokonya yang menjual emas perhiasan dan batangan itu tak terlalu ramai pembeli, meski harga meroket.

“Kalau penjualan, enggak terlalu ramai sih. Kenaikannya memang tinggi ya, tapi kebanyakan jatuhnya ikut-ikut FOMO aja sih masyarakat. Kalau yang nyari banyak tapi stok kan kosong,” kata Daniel.

Meski penjualan emas batangannya tak meledak, Daniel punya pandangan lain. Ia yakin kenaikan harga ini lama-lama akan mengalihkan minat orang ke emas batangan. Sementara untuk emas perhiasan, bisnisnya tetap stabil, banyak dibutuhkan untuk keperluan seperti mahar.

Jadi, meski harganya sama-sama naik, realitas di dua toko itu menunjukkan bahwa respons pasar bisa tak seragam. Semuanya tergantung pada siapa pembelinya, dan tentu saja, ketersediaan stok yang ternyata jadi masalah utama.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar