Ternyata, ada penjelasan sederhana di balik foto yang mengkhawatirkan itu. Menurut keterangan orang tua, saat foto diambil bayi sedang terkena cacar air. Pengobatan tradisional dengan air sirih yang dioleskan membuat kulitnya tampak kemerahan. Inilah yang memicu kekhawatiran para relawan yang melihat fotonya.
"Hasil pemeriksaan menunjukkan bayi tidak dalam kondisi gawat," kata Trunoyudo meyakinkan. "Keadaannya stabil."
Namun begitu, kedatangan tim tidak hanya untuk memastikan nasib satu bayi. Mereka juga memeriksa kesehatan warga di beberapa kampung lain, seperti Jamur Koyel dan Serule. Beragam keluhan ditemukan, mulai dari hipertensi, asma, diare, sampai masalah kulit dan asam urat. Dua anak dengan indikasi stunting juga didata untuk ditindaklanjuti.
"Kondisi kesehatan masyarakat masih butuh perhatian serius," ungkap Trunoyudo. Keterbatasan akses pascabencana, menurutnya, jadi kendala utama.
Di sisi lain, meski warga sudah kembali ke rumah masing-masing dan tak ada lagi pengungsian, persoalan dasar belum usai. Akses jalan masih terbatas. Listrik dan sinyal komunikasi juga belum pulih sepenuhnya.
Trunoyudo menekankan betapa kondisi ini berisiko. "Ini tentu menyulitkan jika ada keadaan darurat," pungkasnya. "Perlu ada percepatan pemulihan akses dan koordinasi yang lebih solid."
Artikel Terkait
PANRB Apresiasi Dedikasi ASN, Ajak Perkuat Kolaborasi di Tahun Baru
Prabowo Ungkap Alasan Langka Tampil di Media Saat Bencana
Dua Penguasa Wilayah Duren Sawit Diciduk Usai Teror Pedagang
Prabowo Gelar Operasi Pendalaman Sungai dari Aceh hingga Sumatera