Bayi di Atu Payung Ternyata Sehat, Tim Medis Tempuh 14 Jam Lewat Medan Terjal

- Kamis, 01 Januari 2026 | 16:20 WIB
Bayi di Atu Payung Ternyata Sehat, Tim Medis Tempuh 14 Jam Lewat Medan Terjal

Setelah banjir bandang dan tanah longsor melanda Aceh Tengah, beberapa wilayah masih terisolasi. Kabar mencemaskan pun beredar: sebuah foto menunjukkan seorang bayi yang diduga sakit parah di tengah lumpuhnya akses kesehatan. Menanggapi hal ini, aparat kepolisian akhirnya berhasil menembus lokasi untuk memastikan keadaan sebenarnya.

Karo Penmas Divisi Humas Polri, Trunoyudo Wisnu Andiko, menjelaskan langkah yang diambil pihaknya. "Begitu informasi itu beredar, kami menurunkan tim ke lapangan," ujarnya pada Kamis (1/1/2026).

Tim gabungan yang terdiri dari tenaga medis, Brimob, dan intelijen Polres Aceh Tengah bergerak sejak Rabu pagi. Target mereka adalah Kampung Atu Payung di Kecamatan Linge, lokasi dimana bayi dalam foto itu diduga tinggal.

"Langkah ini untuk memastikan informasi yang beredar sesuai fakta di lapangan," tegas Trunoyudo. "Sekaligus tentu saja, memberikan layanan kesehatan pada warga yang sulit dijangkau."

Perjalanan menuju lokasi bukan perkara mudah. Medan masih dipenuhi lumpur dan sisa material longsor. Mereka memakai motor sampai ke ujung jalan yang bisa dilalui, lalu melanjutkan dengan berjalan kaki. Cuaca tak bersahabat. Butuh waktu hingga 14 jam perjalanan melelahkan sebelum akhirnya tiba di tujuan.

"Medan menuju lokasi memang cukup berat," akunya. "Butuh waktu lama untuk bisa mencapainya."

Sesampainya di Kampung Atu Payung, tim medis segera memeriksa bayi berinisial RJ yang berusia lima bulan itu. Hasilnya? Dokter menyatakan si bayi dalam kondisi sehat.

Ternyata, ada penjelasan sederhana di balik foto yang mengkhawatirkan itu. Menurut keterangan orang tua, saat foto diambil bayi sedang terkena cacar air. Pengobatan tradisional dengan air sirih yang dioleskan membuat kulitnya tampak kemerahan. Inilah yang memicu kekhawatiran para relawan yang melihat fotonya.

"Hasil pemeriksaan menunjukkan bayi tidak dalam kondisi gawat," kata Trunoyudo meyakinkan. "Keadaannya stabil."

Namun begitu, kedatangan tim tidak hanya untuk memastikan nasib satu bayi. Mereka juga memeriksa kesehatan warga di beberapa kampung lain, seperti Jamur Koyel dan Serule. Beragam keluhan ditemukan, mulai dari hipertensi, asma, diare, sampai masalah kulit dan asam urat. Dua anak dengan indikasi stunting juga didata untuk ditindaklanjuti.

"Kondisi kesehatan masyarakat masih butuh perhatian serius," ungkap Trunoyudo. Keterbatasan akses pascabencana, menurutnya, jadi kendala utama.

Di sisi lain, meski warga sudah kembali ke rumah masing-masing dan tak ada lagi pengungsian, persoalan dasar belum usai. Akses jalan masih terbatas. Listrik dan sinyal komunikasi juga belum pulih sepenuhnya.

Trunoyudo menekankan betapa kondisi ini berisiko. "Ini tentu menyulitkan jika ada keadaan darurat," pungkasnya. "Perlu ada percepatan pemulihan akses dan koordinasi yang lebih solid."

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar