“To our friends in Sumatra, our prayers are with you. Our empathy is with you. We study today in your name as well,” tutur Kiendra dengan lancar.
Menurut Gus Ipul, acara doa bersama ini sekaligus menjadi refleksi penutup tahun bagi Sekolah Rakyat. Ia mengakui, meski program ini masih berjalan sekitar lima bulan, perkembangannya cukup menggembirakan. Anak-anak dari beragam latar belakang kemampuan tetap bisa dibimbing sesuai minat dan bakat masing-masing.
Ia juga menyentil kondisi sejumlah Sekolah Rakyat di wilayah Sumatera. “Beberapa sempat diliburkan karena dampak bencana, di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh,” jelasnya. Namun begitu, kabar baiknya adalah kerusakan yang terjadi tidak permanen.
“Tidak ada yang rusak permanen, alhamdulillah. Secepat mungkin akan kita pastikan aman agar proses belajar-mengajar bisa dimulai kembali,” tegas Gus Ipul.
Di sisi lain, pemerintah sendiri terus berkoordinasi. Konsolidasi lintas kementerian digalakkan untuk penanganan pascabencana, mulai dari penyediaan hunian sementara hingga paket bantuan ekonomi. Doa dari lapangan di Bekasi ini, diharapkan bisa menjadi penyemangat tambahan. Pengingat bahwa di mana pun mereka berada, seluruh anak bangsa ini tetap satu, saling mendukung dan mendoakan dalam menghadapi cobaan.
Acara kemudian ditutup dengan penampilan paduan suara dan pembacaan puisi oleh 61 siswa perwakilan. Lagu-lagu seperti “Manusia Kuat” dan “Di Bawah Tiang Bendera” kembali mengalun, mengirimkan harapan terakhir agar masyarakat Sumatera segera bangkit dan pulih. Sebuah pagi yang sarat makna, sederhana, namun terasa sangat dalam.
Artikel Terkait
Tuchel Panggil Ben White, Tinggalkan Trent Alexander-Arnold untuk Skuad Inggris
Cemburu Pacar, Pria 80 Tahun Dibunuh dan Dibuang ke Sungai Citanduy
Harga RAM DDR4 Melonjak Hampir 9 Kali Lipat, Produsen Beralih Fokus ke Memori AI
Menteri Zulhas Pastikan Stok Pangan Nasional Aman di Tengah Gejolak Global