PT ABM Investama Tbk (ABMM) punya rencana besar untuk tahun ini. Mereka bakal mengoptimalkan dua aset batu bara andalannya, yang berlokasi di Aceh dan Kalimantan Tengah. Langkah ini diharapkan bisa mendongkrak kinerja perusahaan secara keseluruhan.
Fokus utama saat ini ada di tambang Aceh. Menariknya, lokasi ini baru saja melakukan penjualan perdana batubaranya pada Februari lalu. Targetnya, dalam waktu dekat tambang ini sudah bisa berproduksi secara stabil setiap bulannya. Jika berjalan mulus, kontribusinya untuk kinerja ABMM diharapkan sudah solid sepanjang 2026.
Di sisi lain, perseroan juga tak tinggal diam dengan aset barunya di Kalteng. Tambang yang baru diakuisisi itu sedang melalui proses perizinan. Semua dokumen sedang dilengkapi, menuju target operasi komersial di kuartal ketiga 2026.
Namun begitu, perjalanan tahun lalu tidaklah mudah. Sepanjang 2025, ABM Investama mencatat pendapatan USD 1,04 miliar. Angka itu turun 13,5% dibanding tahun sebelumnya. Pelemahan harga acuan batu bara jadi salah satu penyebab utama, ditambah berbagai tantangan operasional dari faktor eksternal yang cukup signifikan.
EBITDA yang disesuaikan berada di posisi USD 339,3 juta. Sementara laba bersihnya terkoreksi menjadi USD 70,6 juta. Meski angkanya turun, manajemen mengklaim kinerja perusahaan masih tetap terkendali di tengah dinamika industri yang fluktuatif.
Direktur ABM Investama, Hans Manoe, punya pandangannya sendiri.
"Kinerja kami di 2025 adalah cerminan dari strategi yang dijalankan secara konsisten di semua unit usaha," ujarnya.
Lebih lanjut Hans menjelaskan, "Kunci kami adalah fokus pada keunggulan operasional dan disiplin pengelolaan keuangan. Dengan cara itu, fundamental perusahaan jadi lebih kuat. Daya saing dan kinerja pun bisa kami pertahankan di tengah persaingan yang ketat, terutama lewat optimalisasi aset dan pengelolaan investasi strategis untuk pertumbuhan jangka panjang."
Pernyataan itu disampaikan melalui keterangan resmi pada Sabtu, 28 Maret 2026.
Memang, data operasional tahun lalu menunjukkan beberapa koreksi. Volume pengupasan lapisan penutup atau overburden removal anjlok 13% jadi 235,4 juta bcm. Volume pengambilan batu bara atau coal getting juga turun 12% ke angka 34,5 juta ton.
Tapi jangan salah, ada cerita yang lebih cerah di paruh kedua tahun. Menurut sejumlah laporan, kinerja operasional justru membaik pada semester II-2025. Di periode ini, volume overburden removal dan coal getting malah naik masing-masing 9,8% dan 19,7% jika dibandingkan dengan capaian di semester pertama.
Peningkatan operasional itu langsung terasa dampaknya pada kondisi keuangan. Di paruh kedua tahun, pendapatan konsolidasian naik 4%, sementara biaya pendapatan justru turun 3,9%. Kombinasi itu menghasilkan pertumbuhan laba kotor yang fantastis: melonjak 142,7% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Ke depan, ABMM tidak hanya berpatokan pada batu bara. Mereka akan terus mendorong inisiatif strategis jangka panjang, dengan mengembangkan sumber pendapatan dari sektor non-batubara. Segmen logistik dan pabrikasi menjadi prioritas, salah satunya lewat pertumbuhan non-organik di bisnis-bisnis yang berdekatan.
Langkah ini diharapkan memperkuat sinergi dalam ekosistem usaha mereka. Visinya jelas: memperkokoh posisi ABM Investama sebagai pemain kunci dalam rantai nilai pertambangan di Indonesia.
Artikel Terkait
Citra Tubindo Bagikan Dividen 21,78 Juta Dolar AS ke Pemegang Saham
PT BEEF Rombak Direksi dan Komisaris, Ari Wijayanto Ditunjuk sebagai Dirut Baru
Pasokan Hewan Kurban Nasional Surplus 800 Ribu Ekor, Wamentan: Indikasi Ketahanan Pangan Baik
NRCA Bagikan Dividen Rp99,8 Miliar, Setara Rp40 per Saham