"Bantuan kemanusiaan itu bagian dari peradaban. Kita harusnya tidak merasa gengsi menerimanya," ujarnya.
"Rakyat tidak akan kecewa kalau negara lain membantu. Wibawa Presiden dan martabat bangsa juga tidak akan runtuh. Ini hal yang wajar, sama seperti ketika kita kerap membantu negara lain yang kena musibah," tegas Deddy.
Ia lalu menyoroti kabar tentang surat Pemerintah Aceh kepada lembaga PBB. Baginya, itu adalah sinyal darurat. Sebuah indikasi nyata bahwa pemerintah daerah dan masyarakat setempat sudah benar-benar kelelahan, nyaris tak sanggup lagi bertahan.
"Kalau benar surat itu dikirim, itu cermin dari betapa gentingnya keadaan di lapangan. Daya tahan mereka sudah melampaui batas," paparnya.
Hal mendesak yang harus segera dituntaskan, menurut Deddy, adalah isolasi daerah bencana. Jalan-jalan yang putus harus dibuka agar bantuan bisa mengalir lancar. Prioritasnya jelas: tempat tinggal sementara yang layak, air bersih, makanan, plus dukungan logistik seperti BBM dan listrik. Semua itu harus dicepat.
"Kalau memang mampu, penanganannya harus sistematis. Isolasi daerah terdampak harus diselesaikan. Titik," tutupnya.
Artikel Terkait
Retak di Bawah Tanah: Saat Hujan Menguji Kekuatan Terowongan dan Basement
Supir Angkot Beraksi, Gagalkan Aksi Jambret di Halte TB Simatupang
Posisi Gus Ipul di PBNU Ditegaskan, Rapat Pleno Kembalikan Struktur ke Bentuk Semula
Kernet Tewas Tertabrak Saat Ganti Ban, Pelaku Ternyata Saudara Sendiri