Trump Kategorikan Fentanil sebagai Senjata Pemusnah Massal, Namun Data dan Target Operasi Tak Selaras

- Selasa, 16 Desember 2025 | 17:45 WIB
Trump Kategorikan Fentanil sebagai Senjata Pemusnah Massal, Namun Data dan Target Operasi Tak Selaras

Di Washington, Presiden Donald Trump mengambil langkah yang cukup dramatis. Ia menandatangani sebuah perintah eksekutif yang mengkategorikan fentanil ilegal sebagai senjata pemusnah massal. Penandatanganan itu dilakukan Senin lalu, seiring dengan kampanye keras pemerintahannya melawan kartel narkoba di Amerika Latin.

"Tidak ada bom yang bisa melakukan apa yang dilakukan ini," ujar Trump dengan nada tegas saat acara tersebut.

Ia melanjutkan, "200-300.000 orang meninggal setiap tahun, setidaknya itu yang kita ketahui."

Perintah itu secara efektif menempatkan zat opioid sintetis itu dalam klasifikasi yang sama dengan ancaman nuklir atau kimia.

Namun begitu, klaim Trump soal angka kematian itu langsung menuai sorotan. Data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) ternyata berbeda. Untuk tahun 2024, CDC memperkirakan total kematian akibat overdosis narkoba sekitar 80.000 kasus. Dari angka itu, opioid sintetis dengan fentanil sebagai penyumbang utama bertanggung jawab atas sekitar 48.000 kematian.

Dokumen perintah eksekutif itu sendiri berargumen bahwa fentanil ilegal "lebih dekat ke senjata kimia daripada narkotika." Pembuatan dan distribusinya, tertulis di sana, dinilai mengancam keamanan nasional dan memicu gelombang kriminalitas di wilayah tersebut.

Langkah klasifikasi ini tak lepas dari perang Trump terhadap yang ia sebut "teroris narkoba." Kampanye militer yang dilancarkan, termasuk menyerang kapal-kapal yang diduga menyelundupkan narkoba, telah berlangsung sejak September. Operasi itu dikabarkan telah menewaskan hampir 90 orang.

Trump dengan yakin menyatakan setiap kapal yang dihancurkan lebih dari 20 unit telah menyelamatkan 25.000 nyawa warga Amerika.

Tapi di sini ada kejanggalan. Kapal-kapal yang menjadi sasaran itu diduga kuat mengangkut kokain, bukan fentanil. Padahal, fentanil yang jauh lebih mematikan itu rutenya berbeda. Zat ini terutama diselundupkan ke AS melalui perbatasan darat Meksiko, bukan lewat kapal-kapal dari negara seperti Kolombia atau Venezuela.

Jadi, meski retorikanya keras dan klasifikasinya ekstrem, tampaknya ada kesenjangan antara target operasi militer dan narasi ancaman fentanil yang coba dibangun.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler