Sejak awal September lalu, operasi semacam ini memang digencarkan. Di bawah pimpinan Pete Hegseth di Pentagon, militer AS gencar mengejar kapal-kapal tersangka penyelundup narkoba, baik di Laut Karibia maupun Pasifik timur. Angkanya cukup signifikan: sedikitnya 26 kapal telah hancur dan 95 orang tewas.
Geliat operasi ini dibarengi dengan penumpukan kekuatan yang masif di kawasan Karibia. Kapal induk terbesar dunia dan sejumlah kapal perang lainnya dikerahkan, menciptakan kesan bahwa ini bukan operasi biasa.
Presiden Donald Trump bersikukuh soal tujuannya. Menurutnya, semua ini demi memerangi perdagangan narkoba yang merusak.
Namun, di sisi lain, Presiden Venezuela Nicolas Maduro punya tafsir berbeda. Ia curiga, alasan pemberantasan narkoba itu cuma kedok belaka. Maduro menduga ada maksud lain: upaya untuk menggulingkan rezimnya di Caracas.
Operasi ini sendiri tak lepas dari kontroversi. Ada satu insiden yang masih menyisakan tanda tanya besar: para korban selamat dari serangan pertama pada sebuah kapal, justru tewas setelah militer AS melancarkan serangan kedua ke kapal yang sama. Insiden inilah yang memicu banyak pihak menuding adanya kemungkinan kejahatan perang.
Artikel Terkait
Catatan Tulisan Tangan Larijani Muncul, Bantah Klaim Israel Soal Kematiannya
Satu Awak Bus Positif Narkoba Usai Razia Tes Urine di Terminal Mandalika
PP PIRA Salurkan Ratusan Paket Sembako ke Warga Jakarta Jelang Lebaran
Polisi Ungkap Motif Sakit Hati di Balik Pembunuhan Perempuan Muda dalam Boks di Medan