HWA HA HA… EGGI DI TEPI JURANG
Oleh M Rizal Fadillah
Artikel saya sebelumnya, “Eggi Di Simpang Jalan?”, memicu banyak komentar. Kebanyakan lewat WhatsApp, dan mayoritas bernada sinis. Intinya, mereka mempertanyakan maksud Eggi Sudjana dan Denny Siregar ‘sowan’ ke rumah Jokowi di Solo. Ada yang bertanya dengan nada pedas, “Kapan lurusnya, kok di simpang?”. Tak ketinggalan, komentar lain yang lebih keras: “Bukan di simpang, tapi di tepi jurang.” Tentu saja, semua komentar itu dibiarkan begitu saja. Namanya juga komentar.
Inti tulisan saya waktu itu sebenarnya sederhana. Saya mendorong Eggi agar segera memberi klarifikasi soal pertemuan kejutannya dengan Presiden. Apalagi di tengah ramainya diskusi soal pemaafan untuk beberapa tersangka yang justru ia laporkan ke Polda Metro Jaya. Klarifikasi itu jangan ditunda-tunda. Menunda hanya akan membuat posisinya semakin ambigu terjepit antara tuduhan pengkhianatan dan upaya memulihkan kepercayaan.
Nah, di tanggal 12 Januari, hari tulisan itu dimuat, terjadi sesuatu yang menarik. Sore harinya, tiba-tiba beredar luas sebuah Pernyataan Sikap dari Ketum TPUA, yang menyebut dirinya BES (Bang Eggi Sudjana?). Isinya? Pemecatan. Beberapa nama di tubuh pengurus dan rekanan TPUA dipecat dengan alasan hak prerogatif Ketua Umum.
Nama-nama yang kena gebuk itu antara lain Azzam Khan, Muslim Arbi, Izmar, Kurnia Rayani, Rizal Fadillah, dan Rustam Effendi.
Membaca pernyataan pemecatan itu, spontan saya cuma bisa geleng-geleng sambil tertawa. Oh, rupanya ini klarifikasi pertamanya. Tertawa geli karena alasan “hak prerogatif” yang dipakai. Hak dari mana? Mungkin dapat wangsit dari Solo. Di dunia mana pun, tindakan seperti ini terlihat egois dan otoriter. “Kumaha aing,” batin saya. Hehe.
Jadi, klarifikasi awalnya sudah jelas. Pertemuan di Solo dengan Jokowi itu murni inisiatif pribadi Eggi (dan mungkin Denny), bukan mewakili TPUA. Soalnya, “Tim”-nya sendiri baru saja dibantai lewat pemecatan massal. Klaim bahwa ini pertemuan lanjutan dari pertemuan TPUA April 2025 lalu jadi terasa mengada-ada. Sekadar karangan untuk mencari pembenaran. Misi dan caranya sudah jauh berbeda, Bro.
Dipecat oleh Eggi dari TPUA justru membahagiakan. Bukan soal pesangon, tapi karena ini membebaskan kami dari dosa kenistaan. Bayangkan, seperti utusan yang merengek-rengek menghadap Fir’aun dengan dalih memberi nasihat, padahal misi aslinya adalah pembebasan kaum tertindas. Bukan untuk kepentingan pribadi, apalagi sekadar mengusung “restorative justice”.
Menurut saya, Bang Eggi Sudjana (BES) sebaiknya fokus pada penyembuhan dan mendekatkan diri pada Allah. Lepaskan saja urusan dunia yang tak pernah memuaskan ini, dan waspadai akhir yang buruk. Pertemuan Solo kemarin itu adalah fitnah. Dan saya membayangkan, klarifikasi selanjutnya akan semakin sulit. Ujung-ujungnya cuma saling tembak, saling pecat.
Kasihan, Eggi sekarang benar-benar di tepi jurang. Seorang ulama bahkan berkomentar canda, “Nanti kalau jatuh, kelelep dalam tumpukan sampah.”
Nasihat saya untuk Bang Eggi: kembalilah ke jalan yang benar. Takutlah pada Allah, yang berkuasa membolak-balikkan hati. Bukankah kita selalu berdoa:
“Robbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wa hablanaa min ladunka rahmatan innaka antal wahhab.”
(QS Ali Imran: 8)
Salam.
") Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Bandung, 13 Januari 2026
Artikel Terkait
Polisi Tangkap Pelaku Pencurian Besi Rel Bekas KAI di Jombang, Oknum Pegawai Terlibat
Polres Gowa Tangkap Pemuda Diduga Perkosa dan Sebar Foto Korban Remaja
NasDem Bone Kecam Pemberitaan Tempo Soal Wacana Merger dengan Gerindra
Arsenal Lolos ke Semifinal Liga Champions Usai Imbang Lawan Sporting