Di Istana Negara, Jakarta, sidang kabinet paripurna Senin lalu dibuka dengan nada serius. Presiden Prabowo Subianto langsung menyoroti situasi sulit di Sumatera pascabencana. Cuaca ekstrem belakangan ini, menurutnya, bukanlah hal sepele.
“Kita tentunya selalu sadar dan ingat saudara-saudara kita di beberapa daerah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat baru saja mengalami bencana banjir dan tanah longsor,” ujar Prabowo.
Ia melanjutkan, “Kita berdoa saudara kita bisa pulih dan kita bekerja keras untuk memulihkan keadaan sehingga rekonstruksi dan rehabilitasi bisa segera dimulai.”
Harapannya jelas: seluruh jajaran harus bekerja keras. Fokusnya adalah pemulihan total untuk wilayah-wilayah yang terdampak itu.
Namun begitu, Prabowo tak hanya bicara respons darurat. Ia menyinggung akar masalah yang lebih dalam, yaitu climate change atau perubahan iklim. Persoalan ini, katanya, telah mengubah segalanya.
“Saudara sekalian keadaan bencana ini saya kira sekarang merupakan suatu keadaan yang harus kita hadapi dengan penuh kewaspadaan,” tegasnya.
Pesan itu disampaikan bukan tanpa alasan. Perubahan iklim, dalam pandangannya, sudah jadi masalah global yang berdampak langsung pada lingkungan hidup kita. Ini soal planet, bukan sekadar lokal.
“Karena memang masalah perubahan cuaca climate change yang mempengaruhi lingkungan hidup kita menjadi masalah global, masalah planet,” ucap Prabowo.
Konsekuensinya? Kewaspadaan harus ditingkatkan. “Sehingga membuat kita harus semakin kuat, semakin tegar, semakin waspada,” imbuhnya. Sidang pagi itu pun berlanjut dengan agenda berikutnya, membawa pesan kewaspadaan itu ke meja masing-masing menteri.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi