Program Makan Bergizi Gratis di Jember terus berjalan, meski dihadapkan pada tantangan nyata di lapangan. Dari 206 titik dapur SPPG yang dijanjikan pemerintah pusat, baru 41 yang benar-benar beroperasi. Enam puluh titik lainnya masih dalam proses renovasi dan pembangunan. Angka itu mungkin terlihat kecil, tapi pemerintah daerah yakin mereka berada di jalur yang tepat.
Targetnya jelas: memastikan layanan gizi bisa menjangkau semua yang membutuhkan.
Jumlah penerima manfaatnya ternyata sangat besar. Menurut dr. Hendro Soelostijono, Ketua Satgas Percepatan SPPG Jember, ada 289.006 orang yang menjadi sasaran utama. Rinciannya, 258.993 adalah peserta didik yang tersebar di 3.285 sekolah. Lalu ada 16.840 ibu hamil, 9.569 anak stunting, dan 3.606 ibu menyusui. Bayangkan saja, betapa kompleksnya logistik untuk memenuhi kebutuhan mereka semua.
Namun begitu, Bupati Jember, Gus Fawait, punya pandangan yang lebih luas. Baginya, MBG ini bukan sekadar program kesehatan biasa. Ini adalah motor penggerak ekonomi baru untuk daerahnya.
"Program ini bukan hanya memastikan kebutuhan gizi anak-anak kita terpenuhi. Lebih dari itu, MBG menjadi penggerak ekonomi baru di Kabupaten Jember," tegas Gus Fawait.
Ia menjelaskan, permintaan bahan pangan yang stabil mulai dari tempe, telur, sayuran, hingga daging akan menciptakan gelombang ekonomi riil. Peternak, petani, dan pedagang lokal akan merasakan langsung dampaknya.
"Jika kebutuhan makan siang bergizi ini berjalan secara konsisten, maka otomatis permintaan bahan pangan meningkat. Peternak ayam, pengusaha telur, sayuran, daging, semua akan berkembang. Yang tadinya tidak ada usaha, akan muncul usaha baru. Yang sudah ada, akan membesar. Investasi datang, pekerja terserap, pengangguran menurun, kemiskinan insyaallah ikut berkurang," paparnya lebih lanjut.
Jadi, skemanya seperti siklus yang saling menguatkan. Desa-desa penghasil bahan baku akan menjadi pusat pasokan. Dampaknya pun meluas, tak hanya untuk anak sekolah dan ibu hamil, tapi juga untuk pelaku UMKM, petani, bahkan sopir yang mengangkut barang. Ekonomi desa berdenyut lebih kencang.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Jember tak menutup mata soal risiko. Mereka tak mau program sepenting ini ternodai oleh masalah keamanan pangan atau distribusi yang amburadul. Untuk itulah, dibentuk Satgas MBG yang bertugas mengawasi setiap tahapan. Mulai dari kualitas gizi, proses distribusi, hingga mengantisipasi hal-hal tak terduga seperti keracunan makanan. Satgas ini merupakan kolaborasi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten, sesuai arahan dari Jakarta.
Jalan masih panjang, tapi langkah pertama sudah diambil. Semua mata kini tertuju pada realisasi di lapangan.
Artikel Terkait
Obesitas Akibat Gaya Hidup Modern, Operasi Bariatrik Jadi Opsi Terapi Medis
Archworks X UPJ Ubah Stigma Arsitektur Elitis Lewat Festival Interaktif di Bintaro
Rupiah Tembus Rp17.424 per Dolar AS, Pemerintah Sebut Tekanan Akibat Faktor Global dan Musiman
Rusia Hantam Zaporizhzhia, 12 Tewas Setelah Gencatan Senjata Sepihak