"Kami jalan di atas pohon sawit, di atas tiang-tiang kabel listrik ini," ujar Rini, menggambarkan medan yang nyaris mustahil. "Melewatinya harus super hati-hati, takutnya nyangkut."
Setelah dua jam mendayung dengan tenaga sendiri, akhirnya mereka tiba di sebuah bukit yang lebih tinggi. Di sanalah mereka bertahan selama tiga hari ke depan, menunggu air reda.
Baru pada Senin pekan depannya, mereka memberanikan diri menengok kondisi rumah. Pemukiman masih terendam, tapi setidaknya mereka selamat. Menurut sejumlah saksi, banjir kali ini adalah yang terparah dalam kurun puluhan tahun terakhir. Untungnya, tak ada korban jiwa yang berjatuhan.
Kini, air sudah mulai surut sejak Kamis dan Jumat lalu. Rini dan keluarganya sudah kembali, namun mereka belum bisa sepenuhnya tinggal di dalam rumah. Lumpur masih memenuhi setiap sudut.
Untuk sementara, mereka tinggal di warung depan rumah, memulai kembali kehidupan dari nol, sambil mengenang malam panjang yang mereka lalui dengan mendayung di atas atap-atap rumah mereka sendiri.
Artikel Terkait
Ibu di Depok Bangun dari Tidur, Langsung Hadapi Maling yang Sedang Menggasak Uangnya
Titik Terang Kasus Guru SD Depok: Polisi Burut Pacar sebagai Tersangka
Pramono Anung Targetkan Normalisasi Kali Cakung Rampung 2027
Nasib Thomas Djiwandono di BI Ditentukan dalam Rapat Paripurna DPR