"Kami jalan di atas pohon sawit, di atas tiang-tiang kabel listrik ini," ujar Rini, menggambarkan medan yang nyaris mustahil. "Melewatinya harus super hati-hati, takutnya nyangkut."
Setelah dua jam mendayung dengan tenaga sendiri, akhirnya mereka tiba di sebuah bukit yang lebih tinggi. Di sanalah mereka bertahan selama tiga hari ke depan, menunggu air reda.
Baru pada Senin pekan depannya, mereka memberanikan diri menengok kondisi rumah. Pemukiman masih terendam, tapi setidaknya mereka selamat. Menurut sejumlah saksi, banjir kali ini adalah yang terparah dalam kurun puluhan tahun terakhir. Untungnya, tak ada korban jiwa yang berjatuhan.
Kini, air sudah mulai surut sejak Kamis dan Jumat lalu. Rini dan keluarganya sudah kembali, namun mereka belum bisa sepenuhnya tinggal di dalam rumah. Lumpur masih memenuhi setiap sudut.
Untuk sementara, mereka tinggal di warung depan rumah, memulai kembali kehidupan dari nol, sambil mengenang malam panjang yang mereka lalui dengan mendayung di atas atap-atap rumah mereka sendiri.
Artikel Terkait
Astra dan Honda Siapkan 1.600 Teknisi dan Posko 24 Jam untuk Mudik Lebaran 2026
Bupati Cilacap dan Sekda Ditahan KPK Usai OTT Dugaan Pemerasan
Menhub Tinjau Arus Mudik di Pantura Cirebon, Soroti Bahaya Mencari Koin di Pinggir Jalan
18 Jamaah Umrah Indonesia Terkatung Usai Kebakaran Hotel di Makkah